default_mobilelogo

A. Latar Belakang

Indonesia memiliki 2 spesies orangutan yaitu Pongo abelii yang terdapat di pulau Sumatera dan Pongo pygmaeus yang tersebar di Kalimantan. Orangutan berperan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem hutan dengan cara memencarkan biji-biji dari tumbuhan pakan yang dikonsumsinya. Ketidakhadiran orangutan di hutan hujan tropis dapat mengakibatkan kepunahan suatu jenis tumbuhan yang penyebarannya tergantung pada primate ini.

Saat ini, keberadaan kedua spesies orangutan di alam sangat terancam dan rentan terhadap kepunahan. Oleh IUCN (2004) orangutan Kalimantan ditetapkan sebagai spesies “endangered” atau Genting, juga terdaftar dalam Appendix I CITES, yang berarti bahwa spesies ini termasuk semua produk yang berasal dari bagian tubuhnya tidak boleh diperdagangkan di negara manapun juga.

Di Indonesia, orangutan telah dilindungi secara hokum melalui: (1) Peraturan Perlindungan Binatang Liar No. 233 Tahun 1931; (2) Undang-undang No. 5 Tahun 1990 Tentang Kehutanan; (3) SK Menteri Kehutanan 10 Juni 1991 No. 301/Kpts-II/1991; (4) Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999; (5) SK Menteri Kehutanan No. 447/Kpts-II/2003 tentang Tata Usaha Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar; (6) Peraturan Menteri Kehutanan No. P.53/Menhut-IV/2007 tentang Strategi dan Rencana Aksi Orangutan Indonesia 2007 – 2017.

Banyak faktor yang menyebabkan cepatnya penyusutan populasi orangutan, antara lain rusaknya habitat hutan akibat penebangan liar (illegal logging), konversi hutan alam untuk dijadikan lahan pertanian atau perkebunan, kebakaran hutan dan perburuan satwa ini untuk dikonsumsi, dipelihara maupun diperdagangkan. Ancaman kepunahan jenis kera besar ini dari aspek hilangnya habitat semakin tinggi terjadi diluar kawasan konservasi karena kawasan hutan yang menjadi habitatnya dipergunakan untuk kepentingan non kehutanan.

PT. Suka Jaya Makmur (SJM) yang memiliki konsesi seluas 171.300 Ha merupakan salah satu pemegang IUPHHK yang terletak di kawasan lansekap prioritas di Kalimantan untuk mendukung konservasi orangutan, yaitu kawasan Rongga - Perai yang diidentifikasi memiliki sekitar 1000 ekor orangutan (PHVA, 2004). Oleh karena itu dipandang perlu melakukan survei monitoring orangutan di areal SJM.

B. Temuan Sarang dan Keberadaan Orangutan

Hasil monitoring atau pengamatan sarang di jalur transek yang dibuat sebanyak 10 buah transek (1 transek = 1.000 meter) ditemukan sarang berjumlah 40 sarang. Gambaran hasil temuan sarang serta estimasi kepadatan sarang dan kepadatan individu orangutan pada setiap lokasi dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini.

Tabel 1.Temuan Sarang serta Estimasi Kepadatan Sarang dan Kepadatan Individu OrangutanPer Kilometer Persegi (Km2) Di Setiap Lokasi

LOKASI

JML

PJG TRS

KELAS SARANG

SRG/

IND/

TRS

(KM)

SRG

I

II

III

IV

V

NT

TOT

KM²

KM²

                         

KM 74

3

3

15

0

1

2

6

6

2

17

141,67

0,46

KM 71

2

2

9

0

1

1

4

3

2

11

137,50

0,45

KM 68

2

2

7

0

1

1

3

2

3

10

125,00

0,41

KM 50

3

3

9

0

0

1

4

4

3

12

100,00

0,33

                         

TOTAL

10

10

40

0

3

5

17

15

10

50

125,00

0,41

Acuan Nilai p = 0,89; r = 1,16; t = 297 sehingga Nilai p x r x t = 307 (Johnson et al, 2005)

Dari tabel 1 diatas, sarang terbanyak yang ditemukan merupakan kelas sarang IV dan V dengan jumlah sarang terbanyak di lokasi Km 74. Berdasarkan pada tabel 1 tersebut diketahui estimasi kepadatan sarang sekitar 125,00 sarang/Km² atau 1,25 sarang/Ha dengan estimasi kepadatan individu sebesar 0,41 individu/Km² atau 0,0041 individu/Ha. Maka berdasarkan data tersebut dapat dilakukan pendugaan atau estimasi kepadatan individu orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) pada areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur seluas 171.300 Ha adalah 0,0041 individu/Ha dikalikan dengan luas areal 171.300 Ha sehingga diperoleh kepadatan orangutan adalah 697 individu.

Kepadatan sarang (densitas) 125 sarang/Km² termasuk kategori sangat tinggi karena densitas sarangnya > 2 per Km² sedangkan kepadatan individu (populasi) orangutan di areal SJM sebanyak 697 individu sesuai dengan hasil penelitian lembaga WWF pada beberapa tahun sebelumnya di areal SJM dengan hasil estimasi populasi orangutan 600 – 700 individu (WWF, 2012)

C. Temuan Jenis Satwa Lainnya

Selama pelaksanaan survei monitoring orangutan, juga dilakukan identifikasi satwa liar lainnya baik secara langsung maupun indikasi keberadaannya melalui jejak, sarang, kotoran, cakaran dan suara. Diketahui ada 8 jenis mamalia yaitu babi hutan, beruang madu, rusa sambar, cuncung (tupai tanah), tupai, kancil, benibui (tupai besar), landak; 4 jenis primata (klampiau, kelasi, beruk, kera/monyet; 10 jenis burung yaitu kacer, beo, pempuruk, pelatuk, punai, gagak, rangkong, papau, ruai, murai batu; 3 jenis herpetofauna (amphibia dan reptilia) yaitu ular sawa, biawak, trenggiling.

Jenis yang sering dijumpai adalah selama pelaksanaan survei monitoring adalah klampiau (Hylobates agilis albibarbis), babi hutan (Sus barbatus), rusa (Cervus unicolor), rangkong (Buceros rhinoceros dan Buceros vigil), beo (Gracula religiosa), biawak (Varanus salavator) dan beberapa jenis lainnya. Satwa liar yang dijumpai termasuk dalam kategori dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999, IUCN dan CITES.