default_mobilelogo

NKT 6 - Kawasan Hutan yang Mempunyai Fungsi Penting untuk Identitas Budaya Tradisional Masyarakat Setempat

 

NKT 6 bertujuanuntuk mengidentifikasi kawasan lanskap yang penting bagi identitas dan budaya tradisional masyarakat setempat. Seperti disebutkan di atas, Kalimantan memiliki banyak kelompok etnis yang sangat bergantung pada sumber daya alam. Tidak dapat dihindari bahwa sumber daya alam tersebut membentuk dan menjadi bagian integral dari budaya di wilayah tersebut. Nilai-nilai di bawah NKT 6 dapat berupa spesies atau kawasan hutan dan lanskap luas yang melakukan atau menyediakan fungsi spesifik untuk masyarakat tradisional, dan ini telah berlangsung selama beberapa generasi. Yang termasuk dalam NKT 6 adalah pelestarian ide, keyakinan, kebiasaan, kegiatan, hubungan budaya, dan perilaku, yang tanpanya masyarakat akan mulai kehilangan tradisi dan keyakinan mereka. Meskipun perubahan budaya adalah proses alami, pemeliharaan sumber daya alam dengan nilai budaya akan mengurangi perubahan paksa terhadap budaya dan memberikan kesempatan kepada budaya untuk berevolusi di masa depan apabila memang diinginkan.

Perubahan eksternal melalui pembangunan telah banyak terjadi di banyak belahan dunia dan mengakibatkan hilangnya pengetahuan dan kebiasaan tradisional. Nilai NKT ini dirancang untuk melindungi budaya tradisional masyarakat setempat di mana hutan terbukti sangat penting bagi identitas mereka, dan dengan demikian membantu PT. SJM dalam memelihara integritas budaya masyarakat di dalam konsesi (Jennings et al., 2003).

Untuk mengidentifikasi NKT 6, dibutuhkan pemahaman yang baik mengenai kelompok tradisional setempat dan studi antologi di kawasan tersebut dapat memberikan informasi yang berguna.

Identifikasi dan delineasi NKT 6

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

    6

Apakah wilayah izin mengandung kawasan, ekosistem, lokasi atau mendukung spesies yang memiliki peran dan nilai tak tergantikan bagi identitas budaya tradisional?

Ada

Identifikasi nilai konservasi tinggi budaya dilakukan bersamaan dengan identifikasi nilai sosial-ekonomi. Tim Penilaian NKT mengunjungi enam desa (dengan 13 dusun). Catatan umum mengenai budaya masyarakat dapat dilihat di deskripsi situs (bagian 3). Hasil yang spesifik pada identifikasi NKT 6 dijelaskan secara mendetail di bawah.

Desa Kayong Utara, Betenung, Beginci Darat, Sebadak Raya dan Nanga Ora semuanya dikunjungi. Secara umum, hubungan antar masyarakat dan hutan / sumber daya alam serupa di seluruh kawasanPT. SJM.

Kepercayaan Kaharingan masih mengakar di sebagian besar desa, dan menjaga kaitan kuat antara masyarakat dan sumber daya hutan. Kepercayaan Kaharingan meyakini bahwa ada roh-roh kuat di dalam hutan yang harus dihormati karena mereka memengaruhi kehidupan, keberuntungan dan kesejahteraan masyarakat. Bahkan dengan diperkenalkannya agama modern, peraturan dan upacara tradisional masih tetap dilaksanakan untuk kejadian-kejadian penting misalnya kelahiran, kehamilan, memberi nama anak, pernikahan, pengobatan dan kematian. Mereka yang telah berpindah ke Kristen atau Islam mungkin tidak secara teratur mengikuti upacara-upacara tersebut tetapi mereka tetap meyakini adanya roh hutan dan menghormati kawasan keramat (kecuali di Nanga Ora di mana mayoritas telah berpindah agama dan masih mempraktekkan upacara dan ritual Kaharingan secara aktif).

Ada banyak kawasan keramat di wilayah ini yang dikenal luas oleh seluruh masyarakat. Di tiap situs budaya ini terdapat peraturan ketat yang melarang beberapa kegiatan terutama pemanfaatan dan gangguan terhadap situs tersebut. Pohon batu dan spesies khusus berperan penting dalam ritual dan keyakinan tentang kawasan keramat. Ritual di seputar pertanian juga sama pentingnya bagi masyarakat. Upacara-upacara khusus harus dilaksanakan sebelum pembukaan lahan (begondang).

Spesies yang menandakan identitas budaya dan hubungan dekat dengan hutan termasuk spesies yang digunakan dalam upacara lading pertanian baru, dan ketika ada orang yang sakit dan membutuhkan perawatan. Selain dari situs keramat yang terdokumentasi, tidak ada sistem zona yang lebih besar pada skala lanskap yang ditemukan.

Daftar situs keramat yang penting, di mana berlaku batasan atas penggunaan sumberdaya, dan sumberdaya alam yang digunakan dalam upacara, dapat dilihat pada Appendix 5. Posisi geografis dari situs-situs yang telah didokumentasikan ditunjukkan dalam Peta..

Tujuan Pengelolaan untuk NKT 6

Situs Budaya yang penting dilestarikan dalam keadaan yang memuaskan bagi masyarakat.

Rekomendasi pengelolaan untuk NKT 6

Informasi yang dikumpulkan selama penilaian NKT mengindikasikan budaya ‘hidup’ yang kompleks dan kuat berdasarkan keyakinan Kaharingan. Penting bagi perusahaan untuk memahami dan menghormati sistem kepercayaan ini. Pemahaman semacam itu dapat menuju pada pengelolaan sensitif atas nilai-nilai yang menjadi bagian dari masyarakat Dayak di kawasan tersebut. Secara khusus, pengelolaan berikut ini harus dilaksanakan.

Demarkasi situs budayadan dokumentasi peraturan yang mengatur penggunaan sumberdaya. Karena terbatasnya sumberdaya, penilaian NKT tidak mendokumentasikan semua kawasan budaya secara spasial. Nama-nama situs budaya telah terdokumentasi dengan baik, namun data dasar untuk menentukan lokasinya belum tersedia untuk seluruh situs. Ini tidak menjadi masalah saat ini karena kami merekomendasikan agar PT. SJM mengembangkan SOP bagi tim PMDH untuk mengembangkan dan memetakan seluruh kawasan dan spesies yang penting bagi budaya di mana perusahaan merencanakan kegiatan penebangan di waktu dekat. Seluruh situs keramat perlu didokumentasikan sekurang-kurang 1 tahun sebelum Rencana Kerja Tahunan (RPT) diselesaikan oleh Kementrian Kehutanan. Kawasan dan spesies khusus yang teridentifikasi dan terdokumentasi dengan masyarakat harus ditandai dengan jelas (terutama apabila muncul di dalam blok penebangan). SOP ini harus menjabarkan kolaborasi dekat dengan masyarakat untuk menetapkan kawasan tersebut, teknik pemetaan partisipatif, dan pemeriksaan ulang di lapangan dengan GPS. Dokumentasi kawasan keramat mencakup peraturan adat tentang pemanfaatan sumber daya alam juga harus dibuat.

Sebelum tersedia lebih banyak informasi lewat pendekatan ini, tidak boleh ada penebangan di situs budaya yang diyakini ada. Melalui diskusi dengan masyarakat, zona penyangga dan/atau pembatasan pemanenan harus disepakati bersama dengan masyarakat, atas panen yang berpotensi untuk dilanjutkan kembali.

Rekomendasi pemantauan NKT 6

Pemantauanatas efektifitas pemetaan kawasan keramat dan dokumentasi peraturan adat harus dilakukan dengan masyarakat, setelah tim lapangan PMHD telah menetapkan kawasan-kawasan tersebut. Persetujuan bulat dari masyarakat akan menentukan efektifitas pemetaan dan dokumentasi.

Pemantauanatas penanda kawasan keramat dapat dilakukan melalui tim ITSP sebelum penebangan pada kompartemen yang mencakup situs keramat, dan pemeriksaan ulang dengan tim PMDH.

Tergantung peraturan adat di situs keramat, keberadaan / ketiadaan kegiatan pengelolaan hutan terbaru dapat diawasi melalui analisa citra satelit. Apabila peraturan budaya / adat mengizinkan tebang pilih, tetapi mencakup spesies khusus (yang telah ditandai selama inventarisasisitus keramat), maka tim lapangan harus memonitor dampak dari operasi penebangan pasca panen.