default_mobilelogo

NKT 5 - Hutan yang Memenuhi Kebutuhan Dasar Masyarakat

NKT 5 bertujuanuntuk mengidentifikasi kawasan yang harus dikelola untuk kmelindungi kebutuhan dasar masyarakat ini. Pengelolaan berkesinambungan atas NKT 5 berarti bahwa pekerjaan, pemasukan dan produk-produk penting dapat dipelihara.

Tabel Villages visited for stakeholder consultation for NKT 5 and 6.

Nama Desa

Nama Dusun

Terlibat dalan kajian

Desa Kayong Utara

Dusun Riam Batu 1

Ya

 

Dusun Riam Batu 2

Ya

Desa Betenung

Dusun Kayong Mekar

Ya

 

Dusun Sekembar

Ya

 

Dusun Sungai Demit

Tidak

 

Dusun Sandong Tinggi

Tidak

Desa Beginci Darat

Dusun Lubuk Kakap

Ya

 

Dusun Kampung Baru

Ya

 

Dusun Riam Buah Permai

Ya

Desa Sebadak Raya

Dusun Kebuai

Ya

 

Dusun Sungai Ingin/ Tj. Beringin

Ya

 

Dusun Sungai Bunga

Tidak

Desa Nanga Ora

Dusun Gurung Agung.

Tidak

 

Dusun Beringin Jaya,

Ya

 

Dusun Tj. Muntai

Ya

Desa Penyenkuang

Dusun Saka Dua

Ya

 

Dusun Penyengkuang

Ya

 

Dusun Tanjung Sedawak

Ya

 

Dususn Pemilahan

Ya

Desa Keluing Taja

Dusun Keluing

Ya

 

Keluing II

Ya

 

Dusun Gambolas

Ya

 

Identifikasi NKT 5

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

    5

Apakah wilayah izin mengandung kawasan atau ekosistem yang menyediakan kebutuhan dasar masyarakat yang sangat penting, tak tergantikan dan dikelola secara berkesinambungan?

Ada

 

  1. Adakah masyarakat atau komponen di dalam masyarakat yang tergantung pada sumber daya dan jasa alam di dalam konsesi PT. SJM dan lanskapkonsesi?

Seluruh masyarakat di dalam dan di sekitar konsesi PT. SJM sangat tergantung pada sumber daya alam. Mayoritas mereka adalah petani padi dan karet dan karenanya sumber daya alam di kawasan ini memenuhi penghidupan mereka. Meskipun konsesi dan pemerintah menyediakan lapangan pekerjaan(sekitar 70 orang bekerja secara langsung di Alas Kusuma Group - sekitar 20% dari total tenaga kerja) yang berpotensi memberikan alternatif terhadap ketergantungan atas sumber daya alam, jarak ke kota administratif dan pasar berarti bahwa akan selalu ada beberapa komponen masyarakat yang sangat tergantung pada sumber daya alam sebanyak lebih dari 50% kebutuhan dasarnya,dan pemeliharaannya sangatlah penting bagi masyarakat di dalam dan di sekitar konsesi.

2.   Apa saja sumber daya dan jasa tersebut dan bagaimana masyarakat menggunakannya?

3.   Bagaimana kondisi, dan kecenderungan kondisi, sumber daya atau jasa yang dipergunakan?

 

Sumberdaya penting dapat dikelompokkanke dalam kategori sebagai berikut:

  • Kebutuhan makanan pokok (kawasan hutan untuk konversi ke pertanian berpindah)
  • Kebutuhan protein (hewan perburuan)
  • Bahan bangunan
  • Bahan bangunan (rumah, kapal, perkakas) dan kayu bakar
  • Obat-obatan
  • Buah dan sayuran
  • Air Bersih
  • Pemasukan dari Produk Alami

Ringkasan identifikasi NKT 5

Kebutuhan dasar yang memenuhi kriteria untuk NKT 5 (yaitu memenuhi persentase minimum dari total kebutuhan, tidak tersedia alternatifdan dikelola secara berkesinambungan) diringkas pada tabel :

Table Nilai Konservasi Tinggi di dalam kawasan PT. SJM

Sumber Daya Alam

Memenuhi lebih dari >50% kebutuhan

Tersedia alternatif

Pengelolaan Berkesinambungan

NKT 5

Kawasan hutan untuk konversi ke pertanian padi berpindah

Ya

Mungkin – praktek pertanian alternatifdapat diperkenalkan untuk meningkatkan efisiensi, tetapi sulit untuk diterapkan

Tidak – kawasan hutan primer mengalami konversi; meskipun ladang palawija menyediakan kebutuhan utama masyarakat, ini tidak dianggap KBKT

Tidak

Kebutuhan Protein

Ya

Sebagian – Pengembangbiakan hewan di dalam / sekitar desa (tetapi berburu adalah bagian dari tradisi Dayak– lihat NKT 6 dan alternatifyang kemungkinan tidak akan menggantikan 100% kebutuhan)

Tidak – perburuan berlebih dan meningkatnya pemakaian racun dan dan listrik untuk memancing

Tidak

Buah dan Sayuran

Ya

Ya – Buah semakin banyak ditanam di sekitar desa dan di ladang terlantar. Sayuran hutan juga memiliki alternative yaitu sayuran yang ditanam di ladang pertanian.

Ya (tetapi panen buah yang menurun diyakini sebagai akibat kerusakan pohon buah oleh panen kayu di dalam PT. SJM)

Tidak

Air Bersih

Ya

Tidak – Seluruh kebutuhan air bersih umumnya berasal dari lanskapkonsesi. Ada cara alternatifmengumpulkan air – misalnya membangun sumur.

Ya (menurunnya kualitas bukan konsekuensi dari kegiatan masyarakat melainkan panen kayu di dalam PT. SJM)

Ya

Bahan Bangunan (rumah, perahu, perkakas) dan Kayu Bakar

Ya (hanya untuk desa Nanga Ora, Penyengkuang dan Nanga Ora saja; MOU dengan Kayong Hulu, Sebadak Raya, Beginci Darat and Betenung menyatakan bahwamereka akan mengambil kayu di luar konsesi

Ya – tetapi semen masih di belum ter jangkau oleh sebagain besar anggota masyarakat

Kebutuhan Dasar untuk konstruksi dan perkakas–berkesinambungan (asumpsi).Dibutuhkan kajian lanjutan.

Ya.Saat ini tercakup sampai ada data yang disusun yang menunjukkan a) tingkat penggunaan yang tidak berkesinambungan dan b) dampak negatifterhadap NKT lain dan bahwa masyarakat menandatangani MOU untuk mengambil kayu dari konsesi

Obat-obatan

Ya

Ya – tetapi harus dibeli

Ya

Ya

Pendapatan dari Sumber Daya Alam

Ya

Ya – karet dan budidaya hewan tidak dianggap sebagai NKT, mereka adalah alternatifbagi perburuan, memancing dan menjual kayu.

Tidak (lihat di atas tentang memancing dan berburu, produk kayu)

Tidak

Delineasi KBKT 5

  1. Di mana lokasi sumber daya tersebut?

 

Air bersih, kayu bangunan dan obat-obatan adalah satu-satunya kebutuhan dasar masyarakat di dalam dan di sekitar konsesi yang ditetapkan bernilai konservasi tinggi. Bagi masyarakat, tidak ada alternatif untuk kelangsungan hidup yang tersedia, dan yang dikelola secara berkesinambungan, (setidaknya di dalam masyarakat itu sendiri). Akan tetapi, sumber daya ini dapat terpengaruh oleh kegiatan pengelolaan PT. SJM.

NKT air bersih terletak di dalam sub-tangkapan air sungai yang ada di sekitar desa dan dusun. Nilai konservasi tinggi ini dicakup di dalam NKT 4.1 dan telah ditetapkan, dan karenanya tidak dibahas lebih jauh di sini.

Kayu bangunan dan NKT kayu lainnya terletak di hutan-hutan di sekeliling desa dan dusun, dan di sepanjang sungai dan jalan yang melalui konsesi. Masyarakat memanen kayu dari sekitar desa mereka dan tempat-tempat yang dekat dengan jalan penebangan di mana aksesnya lebih mudah. Kawasan penting yang digunakan telah terdaftar selama studi sosial-ekonomi, tetapi tidak ada kunjungan lapangan yang dilakukan untuk mengambil titikGPS hutan yang diambil kayunya. Dusun Riam Batu 1 & 2 memenuhi kebutuhan kayu mereka di sekitar desa, dan hingga 7-8 km di sepanjang rute akses (sungai dan jalan). Dusun Kebuai memenuhi kebutuhan kayu di Bukit Temuni, Bukit Kasian, Hulu Kebuai, Bukit Kerayo Ranti, Bekaro, Arahan, Sawang Ukah, Biru babi, Angis Pahngi dan Kemauh. Dusun Lubuk Kakap biasanya mencari kayu di sepanjang Sungai Batang Kawa, sekitar kilometer pos 110 (jalan penebangan utama PT. SJM), dan Sungai Akit, Antak, Sesadui dan Ewat. Seperti dijelaskan diatas ini, MOU tidak ambil kayu dari dalam konsesi ini telah disetujui maka tidak ada KBKT disekitar daerah ini.

Desa Nanga Ora, Penyengkuang dan Kina Jemuat belum memiliki MOU dan ada kemungkinan bahwa pengambilan kayu dari dalam konsesi untuk kebutuhan dasar (bukan penebangan komersil masyarakat) dilakukan secara oportunis sehingga kami secara konservatifmenetapkan kawasan hingga 5 kilometer sebagai sebagai KBKT 5 untuk ke-tiga desa tersebut daripada menggabungnya dengan sub tangkapan untuk air bersih. KBKT ini harus diperbaharui ketika terdapat informasi geospasial yang lebih baik dan atau telah disepakati MOU bersama PT. SJM

Dengan adanya penebangan PT. SJM di seluruh konsesi, tersedia akses yang lebih besar melalui pembangunan banyak jalan. Kawasan yang baru dibuka ini tidak dapat dianggap sebagai NKT 5 karena mereka tidak digunakan secara tradisionaloleh masyarakat untuk mengambil kayu demi kebutuhan dasar mereka.

Obat-obatan ditemukan di ladang pertanian (tidak dianggap sebagai NKT di sini karena mereka selalu berkembang luas) dan di dalam hutan di sekitar desa. Untuk desa Nanga Ora, kami menambahkan kawasan obat-obatan HBKT 5 dengan area yang telah ditetapkan.


Tujuan pengelolaan

Pengelolaan hutan yang menyediakan kebutuhan hidup penting bagi masyarakat dalam dan sekitar konsesi akan melestarikan dan meningkatkan seluruh sumberdaya.

Rekomendasi pengelolaan dan pemantauan untuk NKT 5

2.  Apakah ada kegiatan di dalam konsesi yang akan berdampak negatifterhadap nilai konservasi tinggi dan masyarakat?

Pada saat ini, sebuah paradigm baru dalam hal pengelolaan hutan telah muncul, di mana masyarakat setempat menjadi prioritas, terutama mereka yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan, dan berjuang untuk kesejahteraan masyarakat yang lebih baik dan pengelolaan hutan yang lebih berkesinambungan (Affandi, 2002). Ini tercermin dalam sejumlah peraturan hutan yang mewajibkan program untuk masyarakat dan tanggung jawab sosialperusahaan (SCR).

Karena pengelolaan masyarakat terhadap NKT yang ditetapkan dalam KBKT 5 dianggap berkesinambungan, maka rekomendasi pengelolaan untuk perusahaan harus berfokus pada pengurangan ancaman spesifikterhadap nilai-nilai tersebut saat ini dan potensi ancamandi masa depan, dan juga potensi pergeseran menuju pengelolaan yang tidak berkesinambungan terhadap nilai-nilai tersebut oleh masyarakat itu sendiri. Akan tetapi, seluruh nilai yang diidentifikasi dalam bagian ini (baik yang dikelola secara berkesinambungan, dengan tersedianya alternatifataupun tidak) perlu dipelihara dan diperbaiki, apabila mungkin.

Tabel berikut menyediakan kerangka kerja pengelolaan dan pemantauan NKT spesifik (dan nilai-nilai lain yang tidak dianggap NKT 5 karena adanya alternatifdan kesinambungan, tetapi tetap membutuhkan pengelolaan karena dampaknyaterhadap NKT yang ditetapkan). Pengelolaan dan pemantauanterhadap NKT 5 membutuhkan kerjasama dengan masyarakat. Hubungan antara masyarakat dan perusahaan pemanfaatan sumber daya alam di Indonesia selama ini seringkali buruk, dengan adanya konflik yang umumnya muncul karena anggapan pelanggaran terhadap hak dan kebutuhan dasar masyarakat tradisional yang tinggal di dalam dan di sekitar hutan. Pengelolaan Kolaboratif adalah alat yang kuat yang melibatkan pemangku kepentingan dalam pengambilan keputusan terkait pengelolaan, dan juga menjelaskan tentang hak dan kewajiban. Melalui kerangka kerja pengelolaan kolaboratif, PT. SJM akan bereaksi secara positifterhadap keluhan dari masyarakat mengenai degradasi kebutuhan dasar yang dianggap sebagai akibat dari praktek penebangan dalam konsesi, dan juga mencakup sebuah mekanisme menyelesaikan pertikaian ketika masyarakat melanggar kawasan konsesi dan mengkonversi hutan.


Tabel.Rekomendasipengelolaan dan pemantauanspesifik untuk Kebutuhan Dasar NKT 5 dan NON-NKT 5

Kebutuhan Dasar NKT 5

Lokasi

Rekomendasi pengelolaan

Rekomendasi pemantauan

Air Bersih

Daerah aliran sungai   yang langsung bersisian dengan hunian dan desa

Rekomendasi pengelolaan yang sama seperti pada NKT 4.1

  1. Penerapan Reduced Impact Loggingdi seluruh konsesi dan menghindari penerapan TPTJ di daerah aliran sungai yang memengaruhi masyarakat –kecualifungsi DAS dibuktikan lewat studi independen.

Selain itu

  1. Apabila dibutuhkan, menyediakan perpanjangan jasa tentang sumber air bersih alternatifdan mendorong pengembangan infrastruktur yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat sendiri (sumur atau air pipa)
  2. Pemantauan rutin terhadap kualitas air dan timbunan sedimentasi sungai seperti pada NKT 4.1 dan 4.2 (setiap bulan dengan RKT saat ini yang mungkin berdampak pada masyarakat)
  3. Pemantauanpartisipatif secara reguler dengan masyarakat untuk mendokumentasikan kualitas dan kuantitas air, mengawasi rencana yang dikembangkan.
 

Bahan bangunan (rumah, perahu, perkakas) dan Kayu Bakar

Di seluruh jenis hutan yang dekat dengan desa Penyengkuang, Nanga Ora dan Kina Jemuat.

  1. Melaksanakan studi untuk mengidentifikasi apakah pengelolaan kayu untuk “kebutuhan dasar” (subsisten) oleh masyarakat sudah a) terlaksana di konsesi dan berkelanjutan.
  2. Mengembangkan peraturan pengelolaan kayu berbasis-masyarakat pada KBKT 5 sehingga masyarakat memiliki keamanan sumber daya.
  3. Melatih masyarakat dalam hal pengelolaanhutan yang berkelanjutan, inventarisasi dan perencanaan, penebangan untuk mengurangi tekanan yang akan datang terhadap sumber daya konsesi.
  4. Menghindari penebangan kayu oleh PT. SJM di dalam KBKT 5 hingga perjanjian dengan Kina Jemuat, Nanga Ora dan Penyengkuang telah dicapai..
  5. Mengembangkan pembibitan masyarakat terutama untuk spesies yang mahal misalnya ulin.
  6. Pemantauanpartisipatif tahunan untuk mengukur dampak penebangan oleh masyarakat dan penebangan oleh perusahaan, dan menggunakan evaluasi tersebut untuk merancang perbaikan.
  7. Memantau dan mendokumentasikan pengembangan kegiatan dan peraturan penebangan berbasis-masyarakat kapanpun peraturan dan kegiatan tersebut dibuat
  8. Memantau efektivitas pelatihan
  9. tahunan berbasis-lapangan untuk memastikan tidak ada penebangan dalam KBKT 5.
  10. Mengawasi pengembangan dan efektifitas pembibitan berbasis-masyarakat.
 

Obat-obatan

Kawasan yang dekat dengan desa

  1. Penelitian mengenai obat-obatan tradisional dan potensi dampak dari penebangan
  2. Pendidikan kesehatan dan penyuluhan kesehatan bagi masyarakat
  3. Pemantauanpasca panen terhadap spesies obat-obatan.
  4. Pemantauanpenyakit yang ada di masyarakat
 

Kebutuhan Dasar NON-NKT 5

Lokasi

Rekomendasi pengelolaan

Rekomendasi pemantauan

Bahan bangunan (rumah, perahu, perkakas) dan Kayu Bakar

Di seluruh jenis hutan yang dekat dengan desa, yang ada MOU dengan PT. SJM

  1. Melaksanakan studi untuk mengidentifikasi apakah pengelolaan kayu untuk “kebutuhan dasar” (subsisten) oleh masyarakat sudah berkesinambungan.
  2. Mengembangkan peraturan pengelolaan kayu berbasis-masyarakat pada KBKT 5 sehingga masyarakat memiliki kemapanan dalam pengelolaan sumber daya. Membantu pengembangan organisasi HKM bilamana memungkinkan dan melatih masyarakat dalam hal pengelolaanhutan yang berkesinambungan, inventarisasi dan perencanaan, penebangan untuk mengurangi tekanan terhadap sumber daya konsesi.
  3. Menghindari penebangan oleh PT. SJM di dalam KBKT 5.
  4. Mengembangkan pembibitan masyarakat terutama untuk spesies yang mahal misalnya ulin.
  5. Pemantauanpartisipatif tahunan untuk mengukur dampak penebangan oleh masyarakat dan penebangan oleh perusahaan, dan menggunakan evaluasi tersebut untuk merancang perbaikan.
  6. Mengawasi dan mendokumentasikan pengembangan kegiatan dan peraturan penebangan berbasis-masyarakat kapanpun peraturan dan kegiatan tersebut dibuat
  7. Pemantauantahunan berbasis-lapangan untuk memastikan tidak ada penebangan dalam KBKT 5.
  8. Mengawasi pengembangan dan efektifitas pembibitan berbasis-masyarakat.
 

Tanaman pangan pokok

(konversi kawasan hutan untuk pertanian)

Tersebar di sekitar desa (terutama di K. Lubuk, Beginci Darat) dan di sepanjang sungai dan jalan

  1. Pada desa-desa yang tidak termasuk dalam MOU dengan PT.SJM (kina Jemuat, Nang Ora dan Penyengkuang, melaksanakan perencanaan dan pemetaan partisipatif untuk mengembangkan Rencana Tata Ruang dan Pembangunan Tingkat Desa (menggunakan pendekatan seperti PRA, MLA, dll.) dengan pemerintah / LSM yang relevanmelalui programPMDH dan finalisasi MOU dengan PT.SJM . MOU yang disetujui) harus menetapkan batasan konsesi dan perluasan area pertanian di masa depan.
  2. Menyediakan jasa penyuluhanmelalui program PMDH untuk perbaikan sistempertanian dan mengurangi kecepatan konversi.
  3. Pemantauantahunan terhadap ekspansi pertanian di dalam konsesi (analisa citra satelit) dan negosiasi yang perlu dengan masyarakat apabila teridentifikasi adanya ekspansi.
  4. Pemantauanterhadap efektifitas program yang dilaksanakan untuk mengurangi deforestasi dalam lanskap.
 

Kebutuhan Protein

Di seluruh bagian konsesi tetapi terutama yang dekat dengan desa

  1. Menyediakan penyuluhan kepada masyarakat tentang peraturan perburuan dan spesies yang dilindungi dan hampir punah, dan membantu masyarakat dan organisasi adat merancang peraturan perburuan secara partisipatifuntuk menjaga jumlah spesies target dalam batasan yang berkesinambungan dan memperkenalkan batasan perburuan terhadap spesies kunci yang digambarkan pada NKT 1.3.
  2. Penempatan papan informasi dan poster kesadaran dan pendidikan di desa dan tempat-tempat umum.
  3. Pencakupan pengembangbiakan satwa di dalam program pembangunan desa.
  4. Membantu masyarakat dalam merancang, menerapkan dan mengawasi peraturan lokaluntuk membatasi penggunaan racun dan listrik dalam memanen ikan.
  5. Mengawasi pengembangan peraturan perburuan dengan tim sosial-ekonomi / PMDH dan mengawasi efektifitas peraturan tersebut terhadap spesies terancam, terbatas cakupannya dan dilindungi (pemantauanpartisipatif dengan masyarakat setiap tahun).
  6. Setiap tahun mengawasi keberadaan papan informasi dan poster materi kesadaran.
  7. Mengawasi efektifitas praktek pengembangbiakan dan perburuan satwa.
  8. Pemantauanterhadap peraturan lokaldi bidang perburuan dan perikanan
 

Buah dan sayuran

Di seluruh bagian konsesi

  1. Pepohonan buah di dalam hutan tidak dianggap NKT 5 karena banyak alternatifyang ditanam di ladang. PT. SJM sudah menghindari penebangan pohon buah yang ditemuinya di hutan dan terdokumentasi melalui ITSP. Penerapan Reduced Impact Loggingakan mengurangi kerusakan.
  2. Melaksanakan studi mengenai NTFP di dalam konsesi dan melatih Staf untuk mengenali spesies NTFP yang penting
  3. Pemantauanterhadap pemeliharaan pohon buah dan spesies NTFP lainnya pasca penebangan melalui petak sampel tahunan di RKT lama dan membandingkannya dengan hasil ITSP.
  4. Mengawasi efektifitas pelatihan pada Staf ITSP.
 

Pendapatan dari Sumber Daya Alam

Perkebunan karet, hutan yang memasok hewan buruan, rotan dan kayu

  1. Sama seperti kebutuhan tanaman pangan pokok – karbohidrat di atas. Laksanakan pemetaan partisipatifdan pembuatan Rencana Tata Ruang dan Pembangunan Tingkat Desa melalui kolaborasi dan dukungan finansial dari institusi pemerintah yang relevan.
  2. Program pembangunan desa melalui PT. SJM (PMDH) berfokus pada ekonomi yang mengurangi dampak terhadap kawasan hutan – misalnya pengembangan NTFP yang memelihara hutan.
  3. Mengawasi ekspansi perkebunan karet dan konversi hutan melalui analisa citra satelit dan pemeriksaan silan di lapangan. Ini harus dilaksanakan bersamaan dengan pemantauanterhadap nilai konservasi tinggi lainnya dan ekspansi perkebunan harus diatasi apabila dinilai berdampak pada NKT lain di dalam konsesi dan di sekitar lanskap.
  4. Mengawasi efektifitas programPMDH dalam mengurangi konversi hutan Tegakan tinggi.