default_mobilelogo

NKT 4 - Kawasan hutan yang menyediakan Jasa- jasa Lingkungan

NKT 4 dibagi lagi menjadi tiga kawasan utama:

  • NKT 4.1 Hutan yang penting bagi penampungan/tangkapan air
  • NKT 4.2 Hutan yang penting bagi pengendalian erosi
  • NKT 4.3 Hutan yang menyediakan penghalang terhadap kebakaran

 

NKT 4.1 – Hutan yang penting bagi tangkapan air

Identifikasi dan Delineasi NKT 4.1

 

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

4.1

Apakah wilayah izin mengadung kawasan atau ekosistem yang berperan pada pemeliharaan air bersih dan pencegahan banjir?

Ada

 

Konsesi PT. SJM terdiri atas a) hutan riparian dan b) sub-tangkapan air yang memiliki kepentingan khusus dalam mempertahankan air bersih dan mencegah banjir. Peran tutupan hutan di seluruh konsesi juga sangat penting dalam mengatur hidrologi daerah tersebut.

Perlindungan penyangga riparian adalan peraturanresmi yang sejalan dengan Keppres 32/1990 dan diterapkan dalam UU No 41/1999 tentang Kehutanan. Peraturan tersebut menetapkan sempadan sungai 50-100m kiri-kanan disekitar sungai besar dan anak-sungai. Daerah hutan riparian NKT 4.1 telah ditetapkan menggunakan rekomendasi untuk reduced impact logging (TFF, 2005) yang mana melampaui standar yang ditetapkan.

Dengan skala yang digunakan dalam laporan ini, dan karena hutan riparian tidak dapat diidentifikasi dari data tutupan lahan, maka penyangga riparian tidak dipetakan. Penyangga riparian harus diidentifikasi dan didemarkasi pada basis blok penebangan tahunan oleh tim ITSP sebelum dilakukan operasi penebangan.

Selain itu, sub-tangkapan air di hulu pada desa Beginci Daya, Kayong Hulu, Penyengkuang (dekat dengan Nanga Ora) dan Kina Jemuat telah diidentifikasi dan ditetapkan sebagai KBKT 4.1. Karena sebagian besar dari masyarakat ini menggunakan sungai kecil sebagai sumber air rumah tangga (untuk memasak dan sanitasi) maka prinsip kehati-hatian diterapkan untuk menjaga daerah aliran sungai secara keseluruhan. Analisis GIS DAS dengan DEM (yang mana telah diverifikasi akurat dalam pemeriksaan lapangan) menggambarkan sub-tangkapan dan sungai mengalir di seluruh konsesi. Sub tangkapan di sekitar desa digunakan untuk mengenali area yang dapat menggantikan NKT 4.1

Tidak ada danau atau badan air lainnya di konsesi PT. SJM dan karenanya tidak ada NKT 4.1 untuk badan air tersebut. Setelah berkonsultasi dengan TFF, hutan punggung buki tidak dianggap penting dalam pengaturan hidrologi dan menangkap presipitasi ekstra karena secara keseluruhan area tersebut menerima curah hujan lebih dari 4000mm per tahun sehingga garis awan tambahan dianggap kurang signifikan. Awan hutan yang ada di hutan kabut yang sangat tinggi ditandai oleh epifet bermuatan berat. Jenis hutan semacam ini tidak ada di konsesi.

 

Tujuan Pengelolaan

Wilayah penting bagi pengaturan proses hydrologi dikelola untuk melestarikan pola hydrologi yang dialami pada saat ini.

Rekomendasi Pengelolaan untuk KBKT 4.1

1.    Identifikasi hutan riparian

Setelah pemeriksaan lapangan yang singkat pada 3 lokasi di LOA, penerapan penyangga sungai dikaji dan terkadang mengambil lokasi di tengah zona riparian. Ketika hutan riparian diketahui meluas hingga melampaui penyangga seperti yang disebutkan dalam Tabel 13, maka batas-batas harus diperluas melampaui batas perluapan banjir (yaitu dimana tanah naik secara signifikan dan banjir tidak mungkin terjadi) guna melindungi hutan riparian.

Tabel sungai dan Zona Penyangga Sungai yang disarankan di bawah Reduced Impact Logging (TFF, 2005)

Class

Stream width

Stream Buffer (L and R)

1

10 meters or more

50 meters

2

5-10 meters

25 meters

3

Less than 5 meters

10 meters

 

2.     Larangan alat/mesin berat di penyangga riparian

Larangan ini ditujukan untuk mempertahankan fungsi hidrologis dan mengurangi erosi tanah alluvial yang rapuh, yang mungkin terjadi disamping sungai yang lebih besar. Pemanenan tegakan dapat dilakukan selama tegakan ditebang menjauhi sungai dan jatuh di luar jalur penyangga guna mengurangi kerusakan tanah. Rekomendasi ini juga berlaku untuk konstruksi jembatan. Kawasanpenting hutan riparian yang dibukaseringkali dekat dengan sungai dimana kayu untuk konstruksi jembatan diperoleh.

Rekomendasi Pemantauan untuk KBKT 4.1

  1. Demarkasi penyangga riparian di sepanjang sungai perlu dimonitor dan dicatat untuk memastikan bahwa standar minimal RIL telah tercapai DAN hutan riparian yang melampaui rekomendasi ini dilindungi.
  2. Pemantauan RIL di dalam konsesi seperti NKT 2 dan 3

Selain itu, air yang mengalir dari wilayah tangkapan prioritas harus diawasi. Pemasangan flow meter statis sangat mahal, tetapi debit sungai dapat ditentukan dengan menetapkan karakteristik tinggi aliran sebuah sungai secara khusus. Pengukuran kedalaman air secara manual (dengan tongkat pengukur kedalaman sederhana) kemudian diambil dan dikonversi menjadi debit di sepanjang periode pemantauan. Penentuan karakteristik aliran-kedalamansungai secara khusus akan membutuhkan bantuan teknis satu kali, tetapi pelatihan untuk pemantauandebit air relatif sederhana.Pemantauanaliran air dari wilayah aliran sungai yang dikelola untuk diambil kayunya harus menjadi prioritas, dengan mengambil pengukuran sebelum dan sesudah operasi di dalam tangkapan air. Data aliran air harus digabung dengan data iklim utnuk mengukur kecenderungan antaracurah hujan dan air permukaanpada daerah aliran sungai.

 

NKT 4.2 – Hutan yang Penting bagi Pengendalian Erosi dan Sedimentasi

identifikasi dan delineasi NKT 4.2

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

4.2

Apakah wilayah izin mengandung kawasan yang penting bagi pencegahan erosi tanah dan sedimentasi yang berlebihan (misalnya tanah rentan erosi di lereng terjal)?

Ada

 

Data yang tersedia untuk umum dari program Tropendos-Indonesia digunakan untuk mengidentifikasi dan menetapkan NKT 4.2 di PT. SJM. Tropenbos menggunakan data ruang dari RePPProT (Tanah, lereng, currah hujan) dan rumus R/USLE untuk menghitung potensi erosi. Pada tahap ini penilaian NKT mengandalkan data sekunder tersebut untuk menetapkan KBKT 4.2. Selama masa pemeriksan lapangan di konsesi terdapat korelasi umum antara topografi dan wilayah ynag diidentifikasi sebagai erosi risiko tinggi (jika hutan hilang) di bawah NKT 4.2. Namun demikian perusahaan disarankan agar menghitung erodibilitas potensial dengan tingkat akurasi yang lebih baik. Hasil bagi erodibilitas (K) dihitung dari analisis sampel tanah dan dikombinasikan dengan LS (yang dihitung dari DEM) dan R dari data curah hujan yang dipegang oleh perusahaan.

Tujuan Pengelolaan untuk NKT 4.2

Wilayah penting bagi pengaturan tanah dikelola untuk melestarikan tanah dan meminimalkan erosi.

Rekomendasi Pengelolaan untuk NKT 4.2

Identifikasi atas tanah yang mudah terkena erosi di dalam konsesi menunjukkan bahwa mayoritas konsesi rentan terhadap erosi tanah tingkat tinggi hingga sangat tinggi (>180 Mg ha-1thn-1). Perlu dicatatbahwa keberadaan potensi erosi tinggi hingga sangat tinggi tidak mencegah penebangan di kawasan ini. Potensi erosi yang digambarkan tidak mencakup tutupan vegetasi. Dengan adanya vegetasi, erosi sebenarnya akan sangat berkurang, dan karenanya rekomendasi pengelolaan harus difokuskan pada pemeliharaan persentase tutupan hutan tetap besar yang lebih besar.

1.     Reduced Impact Logging

Rekomendasi pengelolaan yang sama seperti pada NKT 4.1 berlaku untuk NKT 4.2. yaitu mengurangi dampak penebangandan perlunya perhatian terhadap pembangunan infrastruktur penebangan terutama pada lahan yang lebih curam. Meskipun erosi bukan merupakan isu kritis di dataran dan kawasan rata di dalam konsesi, Reduced Impact Loggingdan larangan-penebangan dalam sempadan sungai masih tetap direkomendasikan, untuk memelihara kualitas air yang baik, yang mendukung keanekaragaman hayati dan berperan dalam kehidupan masyarakat (lihat NKT 5).

2.     Penanaman tumbuhan penutup tanah

Penanaman tumbuhan yang cepat menutupi tanah (cover crop) setelah penebangan mungkin dibutuhkan di sisi jalan. Jalan yang baru saja ditutup setelah penebangan nampaknya mampu melakukan regenerasi dengan cepat, tetapi situasi ini harus diawasi secara teratur dan diterapkan tanaman tutupan apabila diperlukan.

3.     Penutupan jalan sarad

Jalan sarad dan jalan penebangan yang tidak lagi dipakai harus ditutup dengan menempatkan timbunan secara strategis untuk mengurangi erosi selokan dan lambatnya regenerasi hutan.

 

Rekomendasi Pemantauan untuk NKT 4.2

  1. Seperti halnya untuk NKT 4.1, pemantauanReduced Impact Loggingmenggunakan tim berbasis lapangan untuk mendokumentasikan erosi yang terjadi, dan menyediakan tindakan pengelolaan yang perlu dilakukan.Erosi tanah di kawasan paling kritis yang dipetakan melalui metodologi R/USLE harus diverifikasi melalui bak erosi. Karena erosi terkait dengan kualitasair, maka kajian dasar kualitas air dapat memberikan data tidak langsung mengenai efektifitas pengelolaan pengendalian erosi. Wilayah aliran sungai utama yang berisi hunian manusia di dalam konsesi harus diawasi secara teratur dengan melakukan pengukuran sebelum penebangan dimulai, dan tahun-tahun berikutnya (hingga 2 tahun) setelah penebangan berhenti, untuk mendeteksi dampak erosi penebangan terhadap kualitasair. Fokus utama atribut yang diukur selama pemantauanharuslah terletak pada beban sedimen, dengan mengambil pengukuran secara teratur (dua kali seminggu) dari lokasi tertentu. Metode cakram Secchi adalah cara yang cepat, murah dan dapat diulang oleh personel yang berbeda. Data curah hujan harian akan berguna untuk mengukur dan mengkorelasikan fluktuasi alami kualitas air setelah hujan besar.
  2. Efektifitas tanaman tutupan tanah harus diawasi sejalan dengan bak erosi.
  3. Seperti halnya untuk NKT 2.1, penutupan jalan penebangan harus diawasi secara teratur.


NKT 4.3 – Kawasan yang Berfungsi Sebagai Sekat Alam untuk Mencegah Meluasnya Kebakaran Hutan dan Lahan

Identifikasi dan delineasi NKT 4.3

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

4.3

Apakah wilayah izin mengandung kawasan atau ekosistem yang berperan mencegah Meluasnya Kebakaran Hutan dan Lahan?

Ada

 

Kawasan PT. SJM, dan lanskap sekitarnya, mendapat curah hujan yang tinggi dan teratur sepanjang tahun. Ini memungkinkan formasi jenis hutan hujan lembab di seluruh konsesi yang tidak mudah terbakar. Namun pada kemarau panjang yang disebabkan El Nino tahun 1982 dan 1997, hutan hujan ini terbakar hingga berbulan-bulan lamanya. Meskipun kecepatan kebakaran cukup pelan karena kelembaban sisa (yang memberikan kesempatan tim pemadam masuk ke area terdampak saat api tidak menyebar jauh) muatan bahan bakar yang tinggi hutan tersebut, berpotensi membakar lebih lama dan lebih susah mengendalikan kebakarannya (NRM II, pers.comm). Keuntungan dari tidak mengganggu suatu daerah melalui rekomendasi pengelolaan penebangan nol guna mengurangi ancaman kebakaran mungkin sebanding dengan tidak adanya jalan logging yang dapat menjadi sekat kebakaran serta akses ke tim pemadam.

Sementara penduduk desa menggunakan api untuk membersihkan vegetasi pasca pemotongan area hutan yang akan ditanami, data dari 2002-2009, menunjukkan beberapa titik api dikonsesi (dan skala"titik panas" ini tidak diketahui dari data satelit). Meskipun ancaman kebakaran hutan termasuk rendah didaerah dataran tinggi dan hutan alam yang berfungsi sebagai "sekatapi" masih bisa diperdebatkan, setelah berkonsultasi dengan para pakar kebakaran hutan yang setuju bahwa hutan dewasa bertindaksebagai pembatas api dalam situasi normal kebanyakan, pendekatan kehati-hatian telah menerapkan NKT4,3 yang dinilai saat ini. Hutan berdekatan dengan daerah bukaan non-hutan yang telah mengalami kebakaran hutan sebelumnya digambarkan sebagai NKT4.3.

Hutan terdegradasi di pinggir hutan mungkin tidak memberikan pertahanan yang cukup dari kebakaran pada masa kekeringan. Oleh karena itu penyangga hutan seluas 500m (yang diidentifikasi dari analisis tutupan lahan dari citra satelit) ditetapkanguna merangkum hutan dewasa dengan ketahanan terhadap kebakaran hutan yang lebih tinggi dan untuk menyoroti daerah yang mungkin membutuhkan perlindungan tambahan serta regenerasi untuk menyediakan fungsi tahan api (Yana Suryadinata, pers comm).

Tujuan pengelolaan untuk NKT 4.3

Hutan yang penting untuk pencegahan penyebaran api dilindungi dan dipulihkan dari area terbuka untuk mengurangi ancaman kebakaran terhadap konsesi.

Pengelolaan Pemantauan untuk NKT 4.3

PT. SJM telah memiliki rencana mengatasi kebakaran yang termasuk diantaranya observasi menara api pada waktu-waktu risiko tinggi kebakaran, informasi dari masyarakat tentang pembakaran dan penyediaan peralatan pemadam kebakaran. Manajemen kebakran aktif adalah perangkat utama pengendalian penyebaran api dan hilangnya hutan. Pengelolaan lanjutan pada zona penyangga akan ditambah dengan rencana pengendalian kebakaran.

1.     Penebangan Nol dalam zona penyangga api

Meskipun zona penyangga 500m kemungkinan telah ditebang di masa lampau, penebangan nol masa depan akan mempertahankan integritas kanopi alamiah, kotoran dan kelembaban tanah yang berpotensi mencegah bencana kebakaran meluas hingga hutan terkelola dengan kanopi yang lebih terbuka dan bagian dalam hutan yang kering pada musim kekeringan berkepanjangan.

2.     Pemulihan zona penyangga api

Penyangga yang diukur dari pinggir non hutan di konsesi dapat mengandung hutan sekunder rendah dan hutan yang mengalami efek tepi (kematian bertingkat spesies di belakang bagian dalam hutan dan pengurangan kompleksitas struktur hutan). Bilamana dibutuhkan harus dilaksanakan penanaman kembali (khususnya dengan spesies yang tahan api)