default_mobilelogo

NKT 3. Ekosistem Langka atau Terancam

NKT 3 bertujuan mengatasi masalah inidan memastikan bahwa ekosistem yang langka dan hampir punah terpelihara dengan memberikan rekomendasi konservasi dan pengelolaan berkelanjutan.

Identifikasi dan Delineasi NKT 3

Analisa terhadap ekosistem yang langka dan hampir punah telah diselesaikan untuk Indonesia bagian barat (Sumatera dan Kalimantan) dan rinciannya dilaporkan dengan Perangkat Penilaian NKT di Indonesia. Analisa yang dilakukan oleh Daemeter Consulting menggunakan pendekatan ekosistem proksi dan penentuan tingkat ancaman dan kelangkaan di dalam wilayah berdasarkan kriteria berikut ini:

  1. Apabila jangkauan eksosistem proksisaat initelah menurun sebesar >50% dari sejarah distribusinya, maka ekosistem ini dianggap terancam.
  2. Apabila jangkauan eksosistem proksidi masa depan diperkirakan akan menurun sebesar >75% dari sejarah distribusinya, maka ekosistem ini dianggap terancam.
  3. Apabila jangkauan eksosistem proksi saat inikurang dari 5% dari total jangkauan seluruh ekosistem alami di dalam sebuah PR, maka ekosistem ini dianggap langka.

Informasi mengenai ekosistem yang hampir punah dan langka disajikan dalam perangkat NKT berdasarkan RePPProT tutupan lahan dan ketinggian tanah (ekosistem proksi) yang mengindikasikan bahwa tidak ada satupun dari jenis ekosistem proksidi dalam PT. SJM dianggap langka. Seluruh ekosistem proksi dataran rendah (0-500m) terancam, seperti dijelaskan dalam Perangkat. Tidak ada satupun dari ekosistem proksi bagian tengah gunung (500m-1000m) yang terancam.

 

 

Walaupun pendekatan ekosistem proksi tidak diikuti dalam menentukan ekosistem, status ‘terancam’ dari ekosistem proksi dataran rendah di daerah fisiografis pegunungan Schwaner tetap dapat diaplikasikan untuk ekosistem yang ditemukan di dalam konsesi PT.SJM. NKT 3 di kawasan tersebut adalah hutan di bawah 500m dan hutan yang menutupi mayoritas konsesi.

Dataran rendah di Kalimantan Barat mengalami tekanan yang terus meningkat dari konversi perkebunan dan pertanian serta penebangan liar di masa lampau. Ke depannya direncanakan lebih banyak perkebunan di daerah tersebut dan ancaman berlanjut dari ekspansi pertanian tak terkontrol dapat terlihat jelas di luar batas-batas konsesi. Dengan demikian, konsesi kayu seperti PT. SJM (yang sebagian besar terletak di dataran rendah dan diberikan mandat untuk memelihara hutan mereka) memegang peranandalam memelihara ekosistem regional yang hampir punah.

Tabel Ekosistem regional yang hampir punah yang ditemukan di dalam konsesi PT. SJM

Jenis Hutan Ekosistem Proksi

Langka

Terancam

Hutan Dataran Rendah pada Pegunungan Metamorfis (LF-BPD)

X

Hutan Dataran Rendah Berbukit Igneous / Dataran Metamorfis (LF-HJA)

X

Hutan Dataran Rendah pada pada Pegunungan Metamorfis (LF-JLH)

X

Hutan Dataran Rendah pada pada Perbukitan Non-Sedimentari (LF-PLN)

X

Hutan Dataran Rendah pada Dataran Non-Aluvial / Sedimentari (LF-RGK)

X

Hutan Dataran Rendah pada Pegunungan Granit (LF-TWI)

X

Hutan Bagian Tengah Gunung pada Pegunungan Metamorfis (SMF-BPD)

X

X

Hutan Bagian Tengah Gunung pada Perbukitan Non-Sedimentari (SMF-PLN)

X

X

Hutan Bagian Tengah Gunung pada Pegunungan Granit (SMF-TWI)

X

X

 

Tujuan pengelolaan

Jenis Ekosistem Terancam dipertahankan dan tidak dikonversi untuk pemanfaatan lahan lainnya.

Rekomendasi Pengelolaan untuk NKT 3

Pengelolaan dan pemantauan ekosistem yang langka dan hampir punah sama seperti yang disarankan untuk nilai lanskap di bawah NKT 2.1.

Penerapan TPTII/SILIN harus ditujukan untuk meningkatkan variasi spesies Dipterocarpaceae yang ditemukan dalam ekosistem dataran rendah dan bukit PT.SJM sehingga ekosistem tersebut tidak dikonversi menjadi hutan homogenseperti Hutan Tanaman Industri.

Rekomendasi Pemantauan untuk NKT 3

Pengelolaan dan pemantauan ekosistem yang langka dan hampir punah sama seperti yang disarankan untuk nilai lanskap NKT 2.1.