default_mobilelogo

NKT 2 –Bentang Alam dan proses-proses Penting

NKT 2 berfokus pada tiga aspek penting yang dapat ditetapkan dan dikelola untuk mempertahankan proses-proses tersebut secara keseluruhan.

  • NKT 2.1 Kawasan Inti hutan yang luasnya minimum 20.000 hektardi mana proses lanskap alami dapat terus berlangsung.
  • NKT 2.2 Kawasan yang berperan dalam kesinambungan antar komponen utama dari sebuah bentang alam.
  • NKT 2.3 Kawasan yang memelihara Perwakilan Spesies Alami.

NKT 2.1 Kawasan Bentang Alam Luas yang Memiliki Kapasitas untuk Menjaga Proses dan Dinamika Ekologi secara Alami

Tujuan dari NKT ini adalah untuk mengidentifikasi dan secara berkesinambungan mengelola lanskap berhutan luas yang mampu memelihara proses dan dinamika ekologi alami untu jangka panjang di masa depan. Hutan besar pada skala lanskap kini semakin langka atau ter-fragmentasi, dan terus mengalami degradasi di seluruh dunia. Pendekatan NKT 2.1 adalah identifikasi ‘kawasan inti berhutan’ dengan skala besar dalam sebuah lanskap, dan mengkaji potensi gangguan akibat fragmentasi di masa depan.

Kriteria yang digunakan bagi “kawasan inti” adalah minimum 20.000 hektar ‘habitat alami’ yang disokong oleh zona habitat alami seluas 3km. Zona penyangga yang luas ini membantu mencegah pengambil alihan oleh manusia dan menghindari pemilihan kawasan berbentuk sempit yang mungkin berpotensi menderita degradasi ‘efek tepi’ di masa depan.

 

Identifikasi NKT 2.1

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

2.1

Apakah ada bagian dari kawasan izin yang ada di dalam lanskap alami luas, yang ditetapkan sebagai fragmen hutan dengan kawasan inti minimal >20.000ha dikelilingi oleh zonapenyangga seluas 3 km dari tepi hutan?

Ada

 

Kawasan yang dipertimbangkan untuk identifikasi zona inti yang tumpang tindih dengan batasan konsesi adalah wilayah lanskap kajian, seperti dijabarkan dalam pendahuluan kajian ini. Analisa pemanfaatan lahan dan tutupan lahan yang dilakukan oleh FFI (2009) menunjukkan bahwa hampir keseluruhan konsesi danlanskap di sekitarnya adalah kawasan berhutan. NKT 2.3 menggambarkan keberadaan sebagian besar spesies yang umumnya terdapat di hutan primer pada LOA. Karenanya, kami mencakup hutan primer maupun sekunder dalam Penilaian NKT 2.1. Kawasan yang sudah tak berhutan, perkebunan dan pertanian campuran tidak dianggap sebagai lanskap alami. Sebaliknya, fragmentasi ke ‘proses lanskap alami’ perlu dipertimbangkan. Jalan yang dipakai secara permanen dan membagi konsesi membentang hingga konsesi di sebelah utara (PT. Wana Sokan). Karenanya, lanskap alami ke Barat Laut dan Tenggara dipertimbangkan secara terpisah.

Dua kawasan memenuhi kriteria KBKT 2.1 dan perlu diuji kemungkinan gangguannya di masa depan. Perangkat NKT mendefinisikan “gangguan di masa depan” berdasarkan asumsi bahwa seluruh Konversi Hutan (HPK - Hutan Produksi yang dapat dikonversi) benar-benar akan dikonversi. Tidak ada HPK di dalam “zona inti” yang teridentifikasi dan karenanya dinilai tidak terancam.

 

Delineasi KBKT 2.1

Perangkat menyatakan bahwa zona inti adalah kawasan minimum seluas 20.000ha dan mencakup sedikitnya zona penyangga seluas 3km dari kawasan terbuka. GIS digunakan untuk menetapkan batasan luar tepian zona penyangga (di dalam lanskap) dan dilanjutkan ke dalam (3km)

Analisa menunjukkan bahwa masih terdapat dua blokbesar lanskap alami di dalam lanskap yang dikaji, dan tumpang tindih dengan Blok 1 konsesi (78.835 ha) dan blok 2 (80.772 ha). Ada kemungkinan bahwa sebagian kecil dari lanskap sebelah utara dapat terdampak oleh pembangunan jalan dari Kampung Baru hingga KM 102. Perusahaan telah menolak gagasan tersebut karena hal ini dapat dimanfaatkan untuk penebangan liar. Pemeliharaan lanskap yang ditentukan saat ini dapat membantu menghentikan rencana yang diusulkan.

Delineasi KBKT 2.1 juga merujuk pada NKT 2.2 dan berupaya memastikan zona inti memiliki masing-masing ekosistem sedikitnya 10,000ha (seperti ditetapkan oleh NKT 2.2). lanskap mencakup variasi ketinggian yang cukup luas sehingga dapat memelihara ekosistem Dipterokarpa dataran rendah, bukit dan pegunungan di daerah tersebut.

Tujuan pengelolaan

Tutupan hutan alami dengan tingkat konektivitas tinggi yang mendukung proses skala lanskap dipertahankan dalam zona inti dan 3 km kawasan penyangga KBKT 2.1.

 

Rekomendasi pengelolaan untuk NKT 2.1

1.    Reduced Impact Logging untuk mempertahankan tutupan hutan

Hutan primer dan sekunder (LOA) tercakup dalam definisi NKT 2.1. Rekomendasi pengelolaan NKT 2.1 difokuskan pada pengurangan dampak negatif terhadap lanskap dan memelihara tutupan lahan alami sebanyak mungkin. Jumlah pohon induk pasca panen diajukan sebagai proksi penutupan kanopi. PT. SJM mengacu pada persyaratan resmi 25 pohon komersial (>20 cm DBH) pasca panen. Seperti halnya pada NKT 1.3, pemeliharaan dari 25 jenis pohon komersial plus segala pohon non-komersil dengan nilai konservasi ( pohon makanan, sarang habitat, dll.) di seluruh area dimana RIL diterapkan direkomendasikan..
Regenerasi harus dilaksanakan apabila perlu di dalam kawasan yang telah dibuka melalui operasi penebangan.

2.    Larangan infrastruktur permanen dalam zona inti

Zona inti dapat dianggap mengalami fragmentasi (atau setidaknya terkena degradasi efek tepi) akibat jalanpenebangan, terutama apabila pembukaan hutan untuk pertanian di kedua sisi jalan terlalu berlebihan. Dengan menerapkan prinsip kehati-hatian, fragmentasi kawasan inti oleh jalan utama dan infrastruktur lain (misalnya kamp penebangan permanen) harus dihindari. Pemisahan total terhadap zona inti dan zona penyangga akibat jalan baru yang melintasi lanskap (yaitu dari utara ke selatan atau timur ke barat pada keseluruhan zona) harus dihindari. PT. SJM berencana membangun kembali jalan logging sepanjang zone inti selatan. Dalam hal ini PT. SJM harus membuktikan melalui penelitian pihak ketiga bahwa jalan logging tidak menyebabkan fragmentasi pada proses-proses lanskap dan konektivitasnya, dan mengembangkan strategi mitigasi seperti koridor/‘jembatan’ satwa dan gorong-gorong yang baik untuk melestarikan konektifitas keanekaragaman hayati dan hidrologi. Pembukaan untuk pembangunan jalan baru harus memenuhi lebar maksimum pembukaan hutan yang diperbolehkan dan jalan penebangan harus ditutup / deaktivasi secepatnya.

 

Rekomendasi Pengelolaan untuk NKT 2.1

  1. Pemantauan dampak dari perusahaan akan mudah di kawasan yang sedang dipanen. Pemantauanberbasis lapangan oleh Staf ITSP dapat mengkaji tutupan kanopi hutan pasca panen dan melakukan tindakan remedial untuk memulihkan tutupan kanopi pada jangka menengah, apabila dibutuhkan. Tekanan terhadap zona inti dari luar dapat diawasi melalui analisa citra satelit setiap tahun. Pemeliharaan proses pada skala lanskap dapat diasumsikan apabila tutupan lahan alami pada zona inti dan zona penyangga KBKT 2.1 terpelihara dengan gangguan seminimal mungkin.
  2. Pemantauan jalan penebangan harus dilakukan secara teratur (sedikitnya dua kali setahun) untuk mengevaluasi akses terhadap jalan penebangan yang seharusnya sudah ditutup. Apabila masih terdapat akses, maka penutupan jalan harus diperbaiki.
  3. Rekomendasi pemantauan sesuai NKT 1.1

 

NKT 2.2- Kawasan Alam yang Berisi Dua atau Lebih Ekosistem dengan Garis Batas yang Tidak Terputus (Berkesinambungan)

Menurut PerangkatIndonesia, NKT 2.2 bertujuanmengidentifikasi bentang alam yang memiliki zona transisi antar ekosistem – ecotonesdanatau ecoclines.

Identifikasi NKT 2.2

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

2.2

Apakah kawasan izin memiliki ecotones/ecoclinesyang penting unuk memelihara kesinambungan antar dua atau lebih jenis ekosistem utama?

Ada

Selama Penilaian NKT ini, hanya dua ekosistem utama yang diidentifikasi di seluruh konsesi[1] yaitu hutan hujan dataran rendah dan perbukitan Dipterokarpa dan hutan hujan sub-pegunungan Dipterokarpa. Ketinggian dalam batas-batas konsesi berkisar dari 100m hingga lebih dari 950m. Whitemore (1984) menyatakan bahwa hutan sub-pegunungan umumnya bermula sekitar 800m dpl dan tim NKT memang mencatat perubahan umum tipe dan struktur hutan dengan ketinggian meningkat selama pemeriksaan lapangan dalam konsesi. Denganformasi dataran rendah dan bukit hutan (ekosistem) Whitmoremencakup 2 zona floristik mana Dipterocarps spesifik cenderung ditemukan-dipterokarpa dataran rendahdan bukit dipterokarpa zona flora. Ekosistem terendah (atau sub-) pegunungan juga dapat dibagi menjadi dipterokarpa atas dan hutan ek-kastanye (oak-chestnut ) dominan. Dataprimer yang dikumpulkan selama penilaian tersebut tidak memadai untuk membedakan bagian umum pergantian spesies dengan ketinggian. Namun,konsesi PT. SJM memang memiliki variasi ketinggian yang cukup untuk mengandung ecoclines antar ekosistem.

 

Gambar 13. Formasi Hutan (ekosistem dan zona distribusi tanaman dengan ketinggian dalam Hutan Hujan Kalimantasn (menurut Whitemore, 1984)

Delineasi KBKT 2.2

Sebagaimana data primer dan observasi tim survei tidak menunjukkan variasi ketinggian di zona flora dari dataran rendah dan hutan bukit dipterokarpa ecotone ditetapkan pada 800m (di mana terdapat perbedaan struktur hutan yang dapat diamati dan karenanya spesies paling mungkin). Bukit-bukit dan gunung-gunung yang melintasi batas 800m telah dipilih sebagai 'lanskap ecocline' di bawah NKT 2.2

Ecoclines telah dipetakan ( ketinggian 100m di ke-dua sisidari gariselevasi 800m yaiyu 700-900m a.p.l.Penentuan zona transisi atas clines seperti elevasi dapat muncul pada jarak/daerahyang substansial. NKT2.2berguna untuk memberi penekanan atas perbedaan yang tampak antara ekosistem dan memastikan pengelolaanyang tepatmelalui ecocline dalam konsesi.

 

Tujuan Pengelolaan

Penutupan hutan alami dengan tingkat konektifitas tinggi yang mendukung proses skala lanskap dipertahankan pasca panen pada seluruh KBKT 2.2 pada lanskap ecocline.

Rekomendasi Pengelolaan untuk NKT 2.2

Memelihara fungsi ecocline dan ecotoneberarti memelihara kesinambungan, menghindari fragmentasi, mengelola tutupan kanopi maksimal, dan menghindari bukaan besar dan gangguan di dalam kawasan ini. Rekomendasi pengelolaan untuk nilai di bawah KBKT 2.1 juga berlaku untuk KBKT 2.2.

  1. Reduced Impact Logging untuk mempertahankan tutupan hutan
  2. Larangan infrastruktur permanen dalam zona inti
  3. Kerjasama pengelolaan lanskap dengan dinas kehutanan dan stakeholder lain.

Rekomendasi Pemantauan untuk NKT 2.2

Sama seperti NKT 2.1

 

NKT 2.3 - Kawasan yang Berisi Populasi dari Perwakilan Komposisi Spesies Alami yang Mampu Bertahan Hidup

Tujuan dari NKT 2.3 adalah untuk mengidentifikasi lanskap dengan kemampuan untuk mendukung ‘komposisi spesies alami’, dan untuk memastikan bahwa kegiatan di dalam Unit Pengelolaan tidak menurunkan kemampuan untuk mendukung varietas spesies alami tersebut. Yang membuat NKT 2.3 berbeda dari NKT 1 adalah bahwa NKT 2.3 mengkaji lanskap berdasarkan kapasitas mereka untuk mendukung beragam spesies, tidak hanya yang langka, terancam, atau hampir punah. Karena sifat rentan dan tak tergantikan dari spesies yang menjadi target dalam NKT 1.2, 1.3 dan terutama 1.4, maka terdapat resiko teridentifikasinya habitat yang berpotensi unik atau langka (di mana sifat ‘rentandan ‘tak tergantikan’sebuah spesies mungkin disebabkan oleh langkanya habitat tersebut). NKT 2.3 bertujuan mengatasi hal ini dengan mewakili pentingnya keanekaragaman hayati yang alami, agar ‘spesies umum’ tidak menjadi spesies yang langka di masa depan akibat terlewati dalam sebuah kajian.

 

Identifikasi NKT 2.3

 

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

2.3

Apakah kawasan izin membentuk bagian dari lanskap yang memiliki kapasitas untuk mendukung populasi spesies ayng paling sering muncul?

Ada

 

Perangkat untuk kajian KBKT menyajikan solusi potensial identifikasi NKT 2.3, dengan menggunakan proksi atau perwakilankeanekaragaman hayati. Perwakilan untuk mengidentifikasi NKT 2.3 dapat mencakup identifikasi kelompokpredator tingkat tinggi atau spesies yang beragam.

 

Predator tingkat tinggi (misalnya leopard / kucing) ada di akhir rantai makanan dan keberadaan mereka dapat menjadi indikasi keseluruhan kualitas lanskap yang mendukung beragam spesies di tingkat rantai makanan yang lebih rendah. Keberadaan spesies yang beragam dengan kepadatan rendah (misalnya orangutan atau gajah di Sumatra) dapat menjadi indikasi kondisi lanskapskala besar.

 

Seperti halnya dalam Penilaian NKT lain yang dilakukan di Indonesia, sejumlah perwakilan diusulkan untuk membantu mengidentifikasi, delineasi, mengelola dan mengawasi NKT 2.3. Di dalamnya dikaji spesiesatau kelompok spesies yang mendiami beragam habitat alami dan hidup berdampingan bersama-sama di dalam lanskap dan karenanya merefleksikan kualitas proses di dalam lanskap tersebut. Spesies tambahan harus mudah diawasi agar dampak potensial PT SJM terhadap lanskap dapat dikaji secara rutin.

 

Tahapan identifikasi NKT 2.3 adalah:

 

  1. Mengidentifikasi spesies yang dapat bertindak sebagai perwakilan/proksiuntuk mengkaji cakupan minimum habitatyang dibutuhkan di bawah NKT 2.3, dan cakupan kelompok/individu dari spesies yang memiliki cakupan luas dan kepadatan rendah.
  2. Mengidentifikasi spesies yang merupakan perwakilan/proksi akurat bagi komposisi spesies alamidi dalam lanskap, misalnya predator tingkat tinggi dan kelompok dari spesies yang mudah teridentifikasi dan menempati habitat/kantong yang luas di dalam lanskap, dan mengindikasikankualitas lanskap secara keseluruhan.
  3. Sesuai dengan Perangkat, lanskap alami yang telah teridentifikasi dan ditetapkan sebagai NKT 1.1, 2.1, dan 2.2, juga dianggap sebagai lanskap NKT 2.3 potensial.

Setelah analisa data lingkungan, spesies indikator yang teridentifikasi sebagai perwakilan keanekaragaman hayati yang sesuai adalah sebagai berikut:Felidae – predator yang lebih tinggi, Orangutan, Elang, Ayam hutan, Rangkong, Madi (Broadbills), Luntur.

Delianeasi NKT 2.3

Mempertimbangkan keberadaan seluruh perwakilan keanekaragaman hayati yang terdaftar, khususnya predatorbesar serta spesies dengan cakupan luas, maka seluruh hutan primer dan sekunder yang tidak terfragmentasi ditetapkan sebagai NKT 2.3

 

Tujuan Pengelolaan untuk NKT 2.3

Penutupan hutan alami yang mendukung proses-proses lanskap yang ditentukan oleh keberadaan spesies indikator dipertahankan dalam KBKT 2.3.

Rekomendasi Pengelolaan untuk NKT 2.3

Pengelolaan difokuskan pada upaya mempertahankan lanskap sehat yang mendukung spesies (dan ditunjukkan melalui penampakan spesies yang telah disebutkan sebelumnya) dan bukan spesies konservasi.

1.   Reduced Impact Logging untuk mempertahankan tutupan hutan

 Sebagaimana halnya untuk KBKT 2.1 dan 2.3, rekomendasi utama untuk pemeliharaan lanskap yang mendukung sekumpulan spesies alami di dalam konsesi akan memerlukan penerapan Reduced Impact Logging guna mengurangi kerusakan terhadap bidang sisa, mengurangi fragmentasi dan melihara kanopi dan konektivitas petak hutan, yaitu untuk menjaga lanskap berhutan di dalam konsesi.

2.   Pelatihan Identifikasi

Untuk NKT 1.3, perlu dibuat materi untuk meningkatkan kesadaran, dibeli peralatan survei dan dilakukan kursus tambahan mengenai identifikasi taksonomi spesies perwakilan/kelompok utama (kursus identifikasi intensif yang difasilitasi oleh organisassi konservasi atau riset dengan pengalaman yang sudah terbukti di Kalimantan) agar dapat mengidentifikasi satwa-satwa ini secara tepat. Survei reguler dari spesies indikator ini dibuthkan untuk menekankan kesehatan lanskap yang menyeluruh. Apabila populasi menjadi jarang, aksi perbaikan segera dapat diambil untuk melestarikan lanskap.

3.     Kerjasama Pengelolaan Lanskap

Untuk NKT 2.1, PT. SJM disarankan melakukan pendekatan secara proaktif kepada pemerIntah dan pemangku kepentingan lain yang berkepentingan pada lanskap untuk mengembangkan dan menerapkan rencana pengelolaan yang kolaboratif di tingkat lanskap, yang menjangkau keluar batasan konsesi. Langkah ini mungkin memerlukan kerjasama dengan badan pemerintah perencana tata ruang dan pihak lain yang dapat secara langsung memepengaruhi ukuran dan kesinambungan lanskap, dan dengan demikian pada jangka panjang menjaga populasi spesies yang umum terdapat di sana.

 

 

Rekomendasi Pemantauan untuk NKT 2.3

  1. Untuk mengukur dampak penebangan terhadap komposisi spesies alami yang mengindikasikan proseslanskap, plot kontrol/transects harus dibuat pada blok yang telah ditebang dan akan ditebang di masa depan. Transects yang digunakan selama kajian ini dapat menjadi data dasar keanekaragaman hayati, tetapi harus ditingkatkan dengan tambahan transects yang tersebar di seluruh konsesi pada berbagai habitat (termasuk di dalam kantong satwa). Keanekaragaman dari spesies perwakilan yang menjadi indikator/keanekaragaman hayati seperti yang digambarkan di atas harus disurveisetiap tahunnya di seluruh transects. Survei harus dilakukan melalui kolaborasi dengan LSM, organisasi penelitian, dan universitas. Keanekaragaman yang rendah atau ketiadaan spesies indikator di dalam LOA mengindikasikan bahwa pengelolaan dan intensitas penebangan perlu dikaji ulang.Saat ini, kawasan TPTJ telah tercakup dalam KBKT 2.3. Data mengenai mengenai keanekaragaman hayati pada blok-blok TPTJ tidak tersedia data dan perlu dimonitor. Tindakan perawatan perlu dilakukan karena TPTII/SILIN hanya dipraktekkan dekat jalur penebangan permanen; sampel kontrol yang sama (pada TPTI hutan LOA dengan jarak yang sama dengan jalur, umur pasca penebangan, ketinggian dan bentuk lahan) harus disurvei dengan intensitas yang sama dibandingkan dengan hasil keanekaragaman hayati TPTII dari plot sampel untuk menunjukkan tingkat gangguan TPTII/SILIN terhadap keanekaragaman hayati. Apabila pemantauanmembuktikan tidak adanya perwakilan komposisi spesies alami, maka status NKT 2.3 harus direvisi (dan tidak akan memengaruhi potensi status sertifikasi). Akan tetapi, pengembangan TPTII/SILIN di masa depan dapat saja membahayakan apabila pemantauan spesies indikator kunci mengindikasikan bahwa pengelolaan hutan secara intensif mengurangi keanekaragaman hayati hutan secara keseluruhan dan indikator kunci kumpulan spesies alami tidak ada. Pemakaian lembar penghitungan yang mudah dipakai (untuk digunakan oleh Staf PT. SJM) juga disarankan untuk mendokumentasikan penampakan mamalia dan burung NKT 2.3 yang dapat mengindikasikan lanskap dan komposisi spesies-spesies alami yang sehat. Lihat NKT 1.3.
  2. Pemantauanatas efektifitas pelatihan dan materi peningkatan kesadaran sesuai dengan NKT 1.3
  3. Pemantauan atas perencanaan lanskap bersama dengan pemangku kepentingan sesuai NKT 2.1.