default_mobilelogo

 

 

NKT 1. Kawasan yang Mengandung Tingkat Keanekaragaman Hayati yang Penting

NKT 1.1 – Kawasan yang Mengandung atau Menyediakan Fungsi Dukungan bagi Keanekaragaman Hayati di Kawasan Lindung atau Konservasi

Identifikasi NKT 1.1

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

1.1

Apakah wilayah izin mencakup kawasan yang mendukung, dapat memengaruhi secara negatif atau mengandung kawasan konservasi dan hutan lindung?

Ada

 

Hutan-hutan di dalam konsesi milik PT. SJM yang berpotensi mendukung kawasanlindung dan konservasi harus ditetapkan sebagai KBKT 1.1. Fungsi pendukung adalah fungsi-fungsi yang membantu memelihara status dan fungsi konservasi/perlindungan hutan tersebut, dan dapat bertindak sebagai penyangga bagi dampak pengelolaan yang berpotensi negatif.Kapasitas penyangga dari hutan lindung dapat dilihat dari kepadatan populasi orangutan yang cenderung lebih tinggi yang diduga berpindah sementara dari petak penebanganaktif(Chairul Saleh, pers comm). NKT 1.1 perlu dipertimbangkan dalam skala lanskap, di mana elemen-elemen lanskap dan interaksi di antara elemen tersebut harus ditelaah secara hati-hati. Apabila pengelolaan kawasan hutan dalam sebuah konsesi berpotensi membawa dampak negatif terhadap kawasan konservasi atau perlindungan, (di mana fungsi pendukung keanekaragaman hayati terganggu), maka kawasan dalam konsesi tersebut harus ditetapkan sebagai NKT 1.1 dan rekomendasi pengelolaan diberikan sesuai status tersebut. Dampak negatif misalnya peningkatan akses (melalui pembangunan infrastruktur penebangan), perubahan terhadap hidrologi atau gangguan terhadap kesinambungan dengan kawasan konservasi atau perlindungan, dapat muncul sebagai akibat dari pengelolaan yang berpandangan pendek. Seluruh konservasi dan hutan lindung yang terdapat dalam konsesi secara otomatis ditetapkan sebagai NKT 1.1.

Konsesi PT. SJM dikelilingi oleh sejumlah hutan lindung (HL) misalnya Kijang Berendam, Bukit Tetundung, Bukit Perai dan Bukit Penintim. Karena topografi yang curam, akses yang terbatas, dan populasi manusia yang rendah di dalam hutan lindung ini, maka kawasan ini masih dalam kondisi baik dan mengandung seluruh keanekaragaman hayati yang diharapkan di kawasan tersebut. Selain itu, sebuah kawasan lindung telah dikeluarkan dari satu bagian konsesi di sebelah utara karena topografi yang curam. Tidak ada hutan konservasi (Taman Nasional, Suaka Margasatwa dll.) yang berbatasan dengan konsesi.

Delineasi KBKT 1.1

Pengelolaan hutan berpotensi memiliki dampak merusak terhadap keanekaragaman hayati dari hutan lindung, dan zona penyangga 500m dari perbatasan hutan lindung dan kawasan lindung yang bersimpangan dengan konsesi ditetapkan sebagai KBKT 1.1.

 

Tujuan Pengelolaan

Hutan Konservasi atau area zona penyangga dipertahankan dan pemanfaatan sumber daya alam yang legal dan berkelanjutan oleh masyarakat dijamin.

Rekomendasi Pengelolaan untuk NKT 1.1

1.     Penebangan Nol di ZonaPenyangga ( buffer Zone ) HutanLindung

Zona penyangga seluas 500m yang diterapkan pada hutan lindung tidak boleh ditebang untuk meminimalisir dampak negatifterhadap hutan lindung. Rekomendasi pengelolaan ini sesuai dengan zona penyangga yang telah diterapkan oleh perusahaan. Apabila batas-batas konsesi belum didemarkasi di lapangan maka akan diatur sebuah zona penyangga sejauh 1000m, sesuai dengan regulasi kehutanan. Batas dari zona penyangga harus selaras dengan batas-batas alami seperti sungai dan punggung bukit yang dianggap layak untuk meningkatkan integritas sub-DAS. Hal ini mungkin mencakup penambahan zona sejauh 500m.Meskipun penebangan mungkintidak berdampak secara langsungterhadapkawasan hutan lindung, zona penyangga di mana penebangan dilarang yang berdampingan dengan hutan lindung akan membantu mengurangi akses pihak ketiga memasuki kawasan hutan ini, dan dengan demikian membantu mengurangi kegiatan yang ilegal atau tidak berkesinambungan.

 2.    PerlindunganHutan LindungmelaluipengelolaankolaboratifdenganKomunitas

Dampak yang paling mungkin terjadi akan berasal dari masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar konsesi. Selama kajian dengan masyarakat, tidak terdokumentasi adanya peraturan adat mengenai perlindungan keanekaragaman hayati. PT. SJM harus melaksanakan program-program penyadartahuan bersama masyarakat untuk meningkatkan pengetahuan mereka tentang kawasan-kawasan yang dilindungi, kemudian menginisiasi diskusi mengenai perburuan dan regulasi tentang sumberdaya alam dengan masyarakat terdekat dari hutan lindung, dan jika memungkinkan mendorong peraturan adat yang melindungi atau secara berkelanjutan mengelola keanekaragaman hayati pada hutan lindung yang terletak di dalam dan di sekitar konsesi.

Rekomendasi Pemantauan untuk NKT 1.1

  • Pemantauan terhadap KBKT 1.1 dapat dijalankan dengan menggunakan teknik penginderaan jarak jauh untuk menelaah apakah penebangan komersial telah merambah kawasan tersebut. Survei lapangan digunakan untuk memilih kawasan yang dapat mengakses dan terletak di samping blok penebangan. Staf harus mengevaluasi apakah KBKT 1.1 telah rusak akibat tebang pilihdan perburuan (ada tidaknya jalan setapak yang sering dipakai pada kawasan terdelineasi) melalui pemeriksaan lahan tahunan di seluruh NKT 1.1.Pemantauan periodik (tahunan) terhadap spesies kunci seperti mamalia besar dan burung yang sensitif terhadap gangguan, dan diketahui menggunakan hutan lindung, harus dijalankan melalui kemitraan dengan LSM lokal/konservasi untuk mengevaluasi efektifitasnya, atau ditetapkannya zona penyangga sejauh 500m dari lokasi kegiatan panen saat ini. Laporan harus disediakan untuk manajer operasional PT. SJM dan diambil langkah-langkah perlindungan yang sesuai apabila ada kawasan yang terkena dampak.
  • PT. SJM harus memonitor pelanggaran terhadap hutan lindung melalui survei tahunan berbasis-lapangan di seluruh kawasan konsesi, dan mengawasi secara ketat tekanan dari luar melalui analisa gambar satelit, dan melaporkan gangguan apapun terhadap hutan yang dilindungi kepada Dinas Kehutanan dan meminta agar diambil tindakan.

Memonitor peraturan adat/ tradisional yang dapat dijalankan dengan masyarakat yang mengembangkannya. Apabila muncul dampak, maka rekomendasi pengelolaan pada NKT 5 perlu diperbaiki atau direvisi sesuai dengan ancaman dan tekanan yang ada saat ini.

 

 

NKT 1.2- Spesies yang Hampir Punah

Tersedianya hutan yang mendukung populasi atau spesies yang terancam punah sangat penting bagi konservasi dibandingkan hutan yang tidak memiliki fungsi tersebut, karena hanya tersedia sedikit opsi ruang dan waktu untuk melindungi spesies tersebut. Spesies yang terancam punah ini sesuai dengan Daftar Merah Satwa yang Terancam yang dikeluarkan oleh IUCN. Beberapa perangkatpenilaian NKTmencakup seluruhspesies yang terancam dan yang hampir punah dalam NKT 1.2 (Jennings et al., 2001; 2008, PNG FSC/WWF-PNG, 2005). Perangkat untuk NKTdi Indonesia (versi 2008) secara khusus membedakan antara Spesies yang Hampir Punah (di bawah NKT 1.2), dan populasi bertahandari seluruh spesies yang terancam dan hampir punah, endemik, dilindungi dan yang dibatasi perdagangannya (di bawah NKT 1.3). Indonesia memiliki jumlah spesies terancam punah yang tinggi dan angka ini terus meningkat, dan karenanya, NKT 1.2 di Indonesia difokuskan secara khusus pada konservasi mendesak dan praktek pengelolaan yang dibutuhkan untuk melindungi spesies terancam yang paling rentan.

Meskipun Indonesia memiliki kawasan konservasi dan hutan lindung yang luas, tidak berarti spesies yang terancam punah hanya terdapat di kawasan itu saja, dan hutan produksi memiliki peran penting atas keberlangsungan hidup mereka. Tujuan dari NKT 1.2 adalah untuk mendefinisikan kawasan dalam unit pengelolaan yang mendukung spesies atau sub-spesies yang hampir punah (atau indikatif mendukung spesies tersebut), dan menyediakan rekomendasi pengelolaan untuk memelihara dan mengembangkan populasi spesies terancam yang paling rentan. Seluruh kawasan yang memiliki fungsi pendukung yang penting dan tidak tergantikan atau kawasan di mana gangguan akan memengaruhi keberadaan spesies yang hampir punah di dalam kawasan konsesi dan lanskap sekitarnya dibahas dalam NKT 1.2.

 

identifikasi NKT 1.2

 

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

1.2

 

Apakah kawasan izin mengandung kawasan atau ekosistem yang mendukung spesies yang hampir punah?

Ada

 

TNC dan FFI melakukan beberapa survei atas konsesi (Erman et al., 2008; Giovanni, 2008, FFI, 2008; Hutabarat & Noerfahmy, 2008; Mistar et al., 2008; Sasmirul & Nardiyono 2008). Spesies yang hampir punah (Critically Endangered/CR) hanya terdiri dari 25 spesies pohon Dipterocarpaceae seperti pada daftar di bawah ini. Tidak ada mamalia, burung, reptil dan amfibi yang hampir punah (CR) yang ditemukan atau mungkin muncul dalam konsesi.

 

Tabel Critically Endangered Dipterocarpaceae Trees Identified in the Concession

 

Nama Latin

Nama kayu komersial

Anisoptera recticulata P.S.Ashton

Mersawa

Diptercarpus grandiflorus

Keruing

Dipterocarpus kunstleri

Keruing

Dipterocarpus lowii Hook.f

Keruing

Dryobalanops aromatica Gaerth.

Kapur

Hopea beccariana

Cengal

Hopea coriacea

Nyerakat

Hopea ferruginea Parjis

Merawan

Hopea mengarawan

Cengal

Hopea sangal   Nyerakat

Nyerakat

Shorea accuminatissima Symington

Pakit

Shorea bullata 

Meranti merah

Shorea elliptica

Meranti merah

Shorea gibbosa Brandis

Meranti Kuning

Shorea hopeifolia (Heim) Symington

Meranti Kuning

Shorea johorensis

Meranti merah

Shorea lamellata

Meranti putih

Shorea lunduensis

Meranti merah

Shorea mujongensis

Meranti kuning

Shorea macrobalanops

Meranti kuning

Shorea resinosa

Meranti putih

Shorea seminis

Tengkawang

Shorea smithiana

Meranti merah

Shorea symingtonii

Meranti kuning

Vatica obovata

Resak

 

Delineasi NKT 1.2

Dipterokarpa yang terancam punah ditemui di seluruh jenis ekosistem hutan yang ada di dalam konsesi. Perangkat penilaian NKT di Indonesia menyatakan bahwa NKT 1.2 adalah wilayah yang mendukung 1 atau lebih spesies atau sub-spesies yang terancam punah. Karenanya SELURUH EKOSISTEM HUTAN ditetapkan sebagai NKT 1.2.

 

Tujuan Pengelolaan

Populasi yang mampu bertahan hidup dari tiap spesies Dipterokarpayang hampir punah (Dipterokarpa CR) yang diidentifikasi pada setiap 100 ha petak penebanganselama ITSP dipertahankan.

Rekomendasi Pengelolaan untuk NKT 1.2

Banyak spesies Dipterokarpa yang dikategorikan Terancam Punah karena hilangnya habitat mereka secara cepat (deforestasi) disertai fakta bahwa spesies-spesies ini menjadi incaran perusahaan penebangan untuk ekstraksi kayu. Perangkat NKT memfokuskan pada konservasi individu CR. Akan tetapi, untuk spesies tanaman, di mana ekologi keluarga pohon kayu yang penting sudah dipahami dengan baik, dan tersedia metode regenerasi yang baik, maka rekomendasi pengelolaan ini (konservasi setiap individu) dapat saja dikendorkan. Seperti halnya dengan NKT 1.3, penekanan untuk tanaman CR harus difokuskan pada populasi yang mampu bertahan hidup dan berkelanjutan. Rekomendasi pengelolaan berikut ini adalah untuk mempertahankan berkelanjutan populasi Dipterokarpa CR.

 

1.     Pelatihan Identifikasi untuk Staf PT. SJM

Dipterocarpaceae saat ini dikelompokkan berdasarkan nama komersil/lokal, yang mana tidak memadai untuk mengelola NKT 1.2. Pemanenan Dipterocarpaceae yang berkelanjutan hanya dapat dimulai dengan identifikasi yang layak atas seluruh spesies Dipterocarpaceae yang ada di blok penebangan yang akan dipanen. Pelatihan identifikasi Dipterocarpaceae dengan menggunakan teknik inventarisasi lapangan sederhana (misalnya guratan kulit kayu/getah dan karakteristik bentuk daun)untuk staf PT. SJM diperlukan, sehingga Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan (ITSP) 100% yang dilakukan 1 - 2 tahun sebelum penebangan dapat mengidentifikasi keseluruhan dari 25 spesies Dipterocarpaceae. Tidak ada upaya yang diperlukan untuk mengidentifikasi Dipterokarpa CR di kawasan konsesi yang tidak ditebang. ITSP harus dilaksanakan dengan basis blok demi balok di bawah TPTI dan rekomendasi pengelolaan dirumuskan selama penebangan dalam konsesi berjalan

2.     Rencana pengelolaan penebangan selektif untuk mempertahankan populasi hidup dari spesies Dipterocarps yang hampir punah

Perangkat menyatakanbahwahanya bila terdapat sedikitnya 100 individu Dipterokarpa CR di dalam konsesi yang dapat dikelola untuk ekstraksi kayu. Di bawah ambang batas tersebut jenis ini terlalu jarang dan memerlukan perlindungan. Oleh karena itu informasi kuantitatif CR Dipterocarps diperlukan SEBELUM keputusan tentang penebangan dibuat. Diasumsikan bahwa semua Dipterokarpa CR di dalam konsesi seluas 171.340 hektar yang dikelola oleh PT. SJM sesuaidengan kriteria-kriteria ini.

 

Data kuantitatif tentang Dipterocarpaceae CR dapat diperoleh melalui pemetaan tegakan selama ITSP dan setelah diberikan pelatihan yang memadai, Staf ITSP akan mampu menghasilkan data distribusi kelas umur untuk tiap jenis dipterokarpayang ditemukan dengan hanya sedikit atau bahkan tanpa biaya tambahan bagi perusahaan. Data mengenai sturktur populasi Dipterokarpa CR harus digunakan untuk mengembangkan rencana pengelolaan sederhana untuk tiap jenis dengan basis petak demi petak. odel Pertumbuhan Hutan (Forest Growth), atau histogram sederhana untuk masing-masing spesies, dapat dikembangkan untuk mengakses keberadaan tegakan dengan diameter yang lebih kecil (tiang) dalam blok penebangan.

Spesies tegakan dengan distribusi kelas usia normal (yaitu berbentuk kurva J terbalik dengan sejumlah besaran akan dan pohon muda, dan sedikit pohon-pohon besar tua- TipeI pada Gambar) harus dikelola untuk mempertahankan minimal 10 pohon > 20cm DBH per petak penebangan. Spesies dengan distribusi kelas usia berbentuk J (Tipe II) dan dipanen menggunakan seleksi berdasarkan diameter (seperti di bawah TPTI) berisiko tinggi menghapus spesies dari sebuah kawasan apabila tidak ada pohon-pohon muda. (Sist etal., 2003).

 

 

Gambar Rekomendasi pemanenan ekologis sesuai dengan distribusi usia kelas (struktur populasi). Tipe I (toleran teduh) – Dipterocarps paling banyak dan Tipe II (intoleran teduh). Dari Sist et al.,2003.

 

Diameter minimum untuk penebangan spesies pohon yang menunjukkan struktur kelas umur Tipe II harus ditingkatkan (seperti yang disarankan oleh Sist et al., 2003), ATAU upaya untuk mempertahankan sedikitnya 2 pohon benih (>50cm DBH) per petak penebangan Dipterocarpaceae CR guna menjaga 'populasi yang layak’ di masa depan. Pohon dewasa >50cm DBH dibutuhkan sebagai pohon benih sebab Dipteroc arps jarang memiliki benih sebelum usia ini.

1.     Reduced Impact Logging (RIL) di seluruh konsesi

Reduced Impact Logging (RIL) membantu mengurangi kerusakan pada stok kayu yang tersisa sehingga dapat melindungi jenis CRD ipterocarpaceae muda yang ada.

2.     Penanaman Dipterocarpaceae yang hampir punah

Dipterocarpaceae CRharus tercakup dalam setiap program penanaman ulang di habitat yang sesuai.  

 

Pemantauan NKT 1.2 Dipterokarpa CR

  1. Efektivitaspelatihandapatdipantau melaluipengujianstaflapanganpadaidentifikasispesies yang hampir punah, rentan, terancam punah dan tidak terancam punah.Inventarisasi wajib di masa depan (misalnya IHMB/RKPH pada intensitas 1% sampel) dapat memfasilitasi PemantauanDipterocarpaceae CR di seluruh kawasan konsesi.
  2. Rencana pengelolaan yang diuraikan di atas didasarkan atas konsultasi namuntidak ada stakeholder yang mampu menentukan rekomendasi pastiyang mempertahankan populasi. Dengan demikian, pemantauan DipterocarpaceaeCR pasca panen menjadi sangat penting. Plot sampel permanen didirikan di lokasi TPTJ. Teknik ini harus diperluas ke petak penebangan TPTI dan populasi dari Dipterocarps CR dipantau secara teratur untuk menginformasikan Standar Prosedur (yaitu tentang jumlah pohon benih yang diperlukan untuk mempertahankan populasi yang layak) untuk pemanenan yang akan datang.
  3. Penanaman Dipterocarpaceae CR yang ditemukan di kawasan konsesi perlu dipantau efektifitasnya.
  4. Melaksanakan studikerusakanpasca-penebangan yangberfokuspada25 spesies CRyang terpetakanselamainventarisasi pra-penebangan danmengkaji jumlah bibit tegakan yang tidak rusak setelah RIL dapatmengevaluasiimplementasi rekomendasipengelolaanNKT. Pemantauanberguna untuk menginformasikanpersyaratan dan perbaikan pengelolaan dan keahlian pemanenandi masa mendatang apabila terjadi kerusakandankematianpohonbenih penting.

 

NKT 1.3. Kawasan yang Mengandung Habitat bagi Populasi yang Mampu Bertahan Hidup (Viable Population) dari Spesies Terancam, Spesies Penyebaran Terbatas atau Spesies Dilindungi

Penentuan prioritas spesiesuntuk pengelolaan berkelanjutandi bawahNKT1.3menerapkanprinsip-prinsip tak tergantikandankerentanan. Spesiesendemikadalahspesies yangterbataspadawilayahgeografistertentu. Apabila habitat ini menurun kualitasnya atau hilang akibat alih guna maka spesies tersebut mungkin terancam punah, karenapopulasilaintidakdapat menggantikannya atau dengan kata lain spesiesyang tak tergantikan. Ketika kawasan penyebarannya kecil, spesies yang tak tergantikan memiliki prioritas tinggi untuk dikonservasi. Spesiesrentanadalahspesies yangterancam punahkarenakeberadaannya menjadi semakinlangka. Penyebaran spesies ini mungkinluas(dan karenanya bukan tak tergantikan), akan tetapi jumlahsebenarnyatelahmengalamipenurunandalamcakupan habitatmerekayangmerekatempati, yang diakibatkan oleh penurunan kualitashabitatyangmerekabutuhkanuntukbertahan hidupatauakibatperburuan dan penangkapan di masa lampau yang tidak mengindahkan aspek keberlanjutan.

Sasaran dari NKT 1.3 adalah untuk melindungi populasi yang mampu bertahan hidup di antara spesies yang terancam atau memiliki cakupan terbatas (endemik) serta spesies yang dilindungi oleh hukum dan dibatasi perdagangannya oleh konvensi di mana Indonesia ikut ambil bagian (secara kolektif disebut di sini sebagai spesies terancam, cakupan terbatas dan dilindungi atau TTD.

Spesies yang dipertimbangkan sebagai NKT 1.3 adalah:

  • Semua yang Hampir Punah (CR), Terancam Punah (EN) dan Rentan (VU) yang terdaftar di dalam Red Listdari IUCN
  • Spesies dengan Cakupan Terbatas (spesies Endemik) terletak di satu pulau atau sebagian pulau
  • Spesies yang dilindungi oleh hukum Indonesia(No 5/ 1990 dll.)
  • Spesies yang terdaftar di bawah CITES Apendix I dan II

Penekanan NKT 1.3 adalah lebih pada pemeliharaan ‘populasi’ spesies dibandingkan pada fokus terhadap individu, dan karenanya, kajian terhadap potensi hidup spesies harus dipertimbangkan ketika menelaah NKT 1.3 di sebuah kawasan.

Ilmu yang mempelajari kemampuan bertahan hidup suatu populasi masih sedang dikembangkan dan jumlah pekerjaan serupa yang telah dilaksanakan terhadap spesies di Indonesia masih minim. Selain itu, kemampuan bertahan hidup sebuah populasi membutuhkan banyak upaya dan waktu yang tidak tersedia selama penilaian NKT. Karena tidak adanya analisa semacam ini, maka penilaian NKT dapat menggunakan analisa ‘daya dukung’ lanskap untuk spesies target di bawah NKT 1.3, yang mempertimbangkan jangkauan dan kualitas ekosistem pendukung. Proksi sederhana dari potensi daya dukung digunakan untuk menilai apakah populasi mampu bertahan hidup. Kapasitas lanskap dikaji dengan mendokumentasikan populasi secara langsung, atau memperkirakan kehadiran sedikitnya 30 individual di dalamnya. Apabila ambang batas ini tercapai di dalam lanskap yang ditelaah, maka spesies tersebut dianggap memiliki kemampuan bertahan hidup dan ekosistem yang mendukung spesies target ditetapkan sebagai NKT 1.3. Ketika jumlah individual spesies target tidak didokumentasikan secara langsung selama studi lapangan, tetapi diketahui akan adanya populasi, maka populasipotensial ditentukan dengan cara ekstrapolasi

data terpublikasi mengenai kepadatan populasi atau daerah jelajah dan ukuran kelompok dan membandingkan data tersebut dengan habitatsesuaiyang tersediadalamlanskappenilaian.

Estimasi populasi potensial menggunakan prinsip kehati-hatian dan mengasumsikan bahwa seluruh kawasan ekosistem yang memiliki kualitas cukup memang ditempati oleh spesies tersebut. Ketika data kepadatan populasi(jumlah individuper hektar) tersedia dari data sekunder, maka total jumlah potensial masing-masing spesies diperkirakan dengan mengalikan kawasan yang memiliki ekosistem cocok di dalam lanskap yang dikaji dengan kepadatan populasi. (Apabila tersedia ukuran kelompok rata-rata dan wilayah cakupan kelompok, maka kepadatan populasi dapat diperkirakan dengan membagi cakupan dengan ukuran kelompok rata-rata). Telah tersedia beberapa studi penting atas spesies di Kalimantan (terutama mamalia). Apabila tidak tersedia data, maka opini para peneliti dan pengarang kajian dapat digunakan sebagai rujukan.

 

Identifikasi NKT 1.3

 

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

1.3

Apakah wilayah izin mengandung kawasan atau ekosistem yang mendukung populai yang mampu bertahan hidup berisi spesies yang terancam atau hampir punah, cakupan terbatas, dilindungi atau dibatasi perdagangannya?

Ada

 

Survei menyeluruh di konsesi PT. SJM dilakukan oleh FFI dan TNC antara 2007dan 2008 secara khusus untuk penilaian NKT 1.3. Sebuah sintesis survei keanekaragaman hayati terperinci di dokumentasikan di sini dengan referensi khusus untuk spesies dengan nilai konservasi tinggi.

Secara keseluruhan, konsesi penebangan PT. SJM kaya akan anekaragam mamalia, burung, reptil, amfibi dan tanaman. Kutipan daftar spesies dari dokumen tersebut di atas yang relevandengan NKT 1.3 dapat dilihat di Lampiran 3. Spesies Terancam, Spesies Penyebaran Terbatas dan Spesies Dilindungi (NKT 1.3).

Mamalia

Mamalia pada konsesi PT. SJM disurvei oleh FFI selama tahun 2007 dan 2008 (Erman, 2008; Giovanni, 2008). Lihat Lampiran 4 untuk daftar spesies yang tercatat beserta penjelasannya. Sintesis hasil menunjukkan bahwa konsesi PT. SJM mendukung hampir seluruh spesies yang diperkirakan muncul di dataran rendah dan hutan pegunungan di Borneo, kecuali Badak Sumatra dan Gajah Kalimantan (hanya ditemukan di Sabah dan mungkin Kalimantan Timur) dan Banteng. Selain itu, populasi spesies seperti misalnya Monyet Bekantan dan Lutung Perak yang biasanya hanya muncul di habitat pantai, diyakini ada di dalam konsesi. Beberapa spesies lain yang dikenal muncul di berbagai kawasan di Borneo juga tercatat ada di dalam konsesi, sehingga memperluas cakupan distribusi yang sebelumnya dikenal. Beberapa spesies yang dilindungi termasuk Orangutan Borneo (Pongo pygmaeus), Macan Dahan (Neofelis nebulosa), Beruang Madu (Helarctos malayanus), Kukang (Nycticebus coucang), Beruk (Macaca nemestrina), Landak Raya (Hystrix brachyura) dan Berang-berang Berbulu Licin (Lutra perspicillata), juga tercatat beserta delapan endemik Borneo.

Secara keseluruhan, ketigapuluhlima spesies mamalia yang tercatat selama inventarisasi adalah spesies yang terancam punah, dilindungi oleh peraturan perdagangan Internasional dan/atau undang-undang Indonesia, atau endemik di Pulau Kalimantan. Satu-satunya spesies yang populasi totalnya telah dikaji secara kuantitatif di kawasan ini adalah Orangutan. WWF saat ini sedang melaksanakan survei reguler Orangutan menggunakan transek untuk merekam penampakan langsung dan 'sarang' untuk memperkirakan populasi di daerah tersebut.Total populasi sebesar 619-772 diperkirakan berada dalam batas-batas konsesidan ada populasi tambahan yang hidup di luar konsesi, di dalam lanskap yang dikaji (Chairul Saleh/WWF perscomm). Orangutan muncul dihutan primer dan LOA sekunder. Hal ini jelas merupakan sebuah populasi bertahan dan secara global signifikan dari orangutan.

Spesies lain juga dikaji kemampuan bertahan hidupnya (>30 individu di dalam konsesi dan lanskap sekitarnya dengan ekosistem yang layak). Apabila terdapat data untuk spesies-spesies ini, maka seluruhnya dinilai untuk memenuhi kriteria populasi yang mampu bertahan hidup. Apabila tidak terdapat data, maka pengkaji melihat dari pengalamannya di lapangan dan menilai dari jumlah hewan dan ukuran kawasan konsesi yang tersedia untuk mendukungnya, membuat kajian berisi kemungkinan tingkat populasi yang mampu bertahan hidup di dalam konsesi dan lanskap sekitarnya. Pada kasus PT. SJM, habitat hutan primer dan sekunder dinilai berkualitas baik untuk mendukung sebagian besar spesies TTD dan karenanya kawasan delineasi untuk NKT 1.2 digunakan dalam menghitung perkiraan kemampuan bertahan hidup (viabilitas). Dengan demikian, seluruh spesies mungkin memiliki populasi yang mampu bertahan hidup atau berkemungkinan besar terdapat populasi yang mampu bertahan hidup di dalam konsesi.

Spesies yang diyakini muncul dalam kawasan survei (berdasarkankonsultasi dengan penduduk), tetapi tidak tercatat selama inventarisasi, termasuk Kubung (Cynocephalus variegatus natunae), Monyet Belanda (Nasalis larvatus), beberapa karnivora (Mustela nudipes, Melogale personata, Lutra sumatana, Lutra perspicillata, Arctogalidia trivirgata stigmatica, Prinodon linsang gracilis, Felis marmorata marmorata), dan beberapa tupai dan tupai terbang. Tidak terdeteksinya spesies tersebut mungkin karena kebiasaan pemalu (sebagian besar karnivora adalah mahluk malam dan sangat sulit ditemui) atau karena kepadatan satwa tersebut yang rendah.

Burung

FFI melakukan survei burung di dalam konsesi PT. SJM untuk penilaian NKT ini (Hutabarat dan Noerfahmy, 2008). Sejumlah 50 spesies burung terancam, memiliki cakupan terbatas atau dilindungi ditemukan di dalam konsesi, dan seluruhnya kecuali tiga spesies telah dievaluasi dan ditemukan memiliki populasi yang mampu bertahan hidup (berdasarkan jumlah observasi langsung terhadap burung yang dilihat sepanjang survei, dan opini para ahli mengenai daya dukung potensial di lanskap tersebut menggunakan pendekatan cakupan kelompok / kepadatan populasi). Ketiga spesies yang tidak memiliki populasi yang mampu bertahan hidup (populasi minimum 30 individu tinggal di lanskap) adalah Bangau Storm(Ciconia stormi), karena spesies langka ini terlihat sedang ‘transit’ dan tergantung pada dataran basah, yang bukan merupakan ekosistem dominan di dalam konsesi dan lanskap sekitarnya; Elang Ikan Kecil (Ichthyophaga humilis) dan Elang Ikan Kelabu (Ichthyophaga ichthyaetus), yang jarang ditemukan di sekitar dataran basah dan sepanjang sungai, dan karenanya terdistribusi secara jarang di sepanjang lanskap. Yuhina everetti yang endemikjuga biasanya ditemukan di tempat ketinggian pada hutan gunung (atas 1.000m). Keberadaannya di tempat berketinggian rendah mengisyaratkan adanya populasi yang sehat di dalam lanskap yang dikaji.

Reptil dan Amfibi

Reptil dan Amfibi disurvei oleh FFI dan PT. SJM selama bulan Agustusdan September 2008 (Mistar et al., 2008). Total sebanyak 21 spesies reptil atau amfibi TTD tercatat ada di dalam konsesiPT. SJM. Sedikitnya 5 spesies ditemukan di seluruh situs (jumlah minimum tercatat di Sungai Pelantikan) di mana 13 dari 20 spesies TTD tercatat di Camp 128. Meskipun seluruh spesies ini tingkat penemuannya rendah (karena sebagian besar memiliki kebiasaan nokturnal), seluruhnya diasumsikan memiliki populasi yang mampu bertahan hidup berdasarkan kawasan konsesi sebenarnya yang disurvei, dibandingkan dengan potensi habitat berkualitas cukup yang tersedia.

Flora

Seperti dibahas pada NKT 1.2, banyak Dipterocarpaceae CR yang telah diidentifikasi di dalam konsesi. Spesies-spesies ini beserta spesies lain yang rentan dan terancam, endemikc dan dilindungi di bawah undang-undang Indonesia terdaftar pada tabel 15. Seperti dibahas pada NKT 1.2, pengelolaan yang berkelanjutan atas spesies ini dapat menjamin populasi mampu bertahan hidup. Satu individu pohon induk mampu menghasilkan banyak semai, dan karenanya ambang batas 30 individual di dalam konsesi tidak diterapkan di sini. Penekanan NKT 1.3 adalah mengelola populasi yang mampu bertahan hidup dan itulah tujuan dari rekomendasi pengelolaan berikut ini.

Delineasi NKT 1.3

Karena banyaknya mamalia, burung, reptil, dan terutama tanaman TTD, yang tercatat di seluruh jenis hutan, maka seluruh ekosistem hutan ditetapkan sebagai NKT 1.3. Misalnya, seluruh habitat berhutan utama yang disurvei memiliki sedikitnya 14 spesies burung dengan populasi yang mampu bertahan hidup sehingga menghasilkan status NKT 1.3. Spesies tanaman TTD juga tersebar di konsesi ini pada seluruh jenis ekosistem utama yang diambil sampelnya (sebagaimana telah dinyatakan dalam NKT 1.2). Tidak ada alasan untuk menduga adanya ekosistem hutan tertentu yang tidakmendukung populasi bertahan dari seluruh spesies tanaman yang ditemukan. Hutan primer maupun sekunder dicakup di dalam NKT 1.3, meskipun beberapa spesies endemik pulau Borneo mungkin tersebar dengan kepadatan yang makin rendah atau semakin terancam di hutan yang ditebang. Saat ini, banyak spesies TTD yang masih ada pada LOA sekunder, dan rekomendasi pengelolaan yang diajukan di sini bertujuan memelihara spesies tersebut.

 

Tujuan Pengelolaan

Populasi yang mampu bertahan hidup (>30 individu) dari spesies terancam, penyegaran terbatas dan dilindungi yang diidentifikasi pada konsesi PT. SJM dan lanskap disekitarnya dipertahankan atau ditingkatkan.

Rekomendasi pengelolaan untuk KBKT 1.3

Diskusi antara TNC, PT. SJM dan OSCP pada tahun 2010 menyusun peringkat ancaman terhadap Orangutan sebagai berikut:

     Ancaman

     Konversi hutan (terutama oleh pertanian)                                                     Rendah

     Fragmentasi hutan (terutama karena pembangunan jalan)                             Rendah

     Kebakaran hutan                                                                                       Rendah

     Penebangan (legal dan ilegal)                                                                     Sedang

     Perburuan                                                                                                 Di Atas Rata-Rata

Ancaman-ancaman ini kemungkinan besar serupa bagi banyak satwa TTD yang ditetapkan di bawah NKT 1.3, dan karenanya dipertimbangkan dalam rekomendasi pengelolaan.

 

1.     Perlindungan dan Pengelolaan Spesies

Menurut Undang-Undang No. 5 tahun 1990 Pemerintah Indonesia, para pengelola konsesi wajib mencegah kegiatan apapun yang merusak kemampuan bertahan hidup spesies yang dilindungi (Departemen Kehutanan 1990). Penegakan undang-undang ini harus dimasukkan ke dalam panduan untuk Staf PT. SJM. Peraturan yang jelas tentang perburuan, misalnya penerapan larangan senjata untuk seluruh karyawan. Peningkatan kesadaran untuk para Staf dan masyarakat yang tergantung pada PT. SJM juga harus dijalankan, dengan mendefinisikan secara jelas spesies yang dilindungi oleh hukum. Kolaborasi dengan polisi hutan dan perwakilan pemerintah lainnya juga disarankan.

Apabila dibandingkan dengan penebangan, perburuan merupakan ancaman yang jauh lebih besar di banyak bagian Borneo (Bennett dan Gumal 2001; Bennett et al. 2000; Meijaard et al. 2005). Ancaman yang diakibatkan oleh perburuan terutama sangat besar di hutan tropis Borneo karena relatif langkanya satwa liar yang dapat dimakan (Bennett et al. 2002; Payne 1990). Penebangan secara langsung dan tidak langsung memfasilitasi tekanan perburuan dengan meningkatkan akses melalui jalan, jalur, dan bukaan lahan, serta memperluas hunian manusia dengan turut meningkatnya ekonomi dan konsumsi pasar.

Seperti yang terdokumentasikan di seluruh desa yang dikunjungi oleh tim penilaian NKT, perburuan merupakan ancaman terbesar terhadap spesies yang ditargetkan untuk konsumsi atau perdagangan, terutama rusa, babi dan primata. Seluruh spesies yang diburu mengalami penurunan dan jumlah yang diburu tidak berkesinambungan di tingkat yang sekarang ini. Pengelolaan populasi spesies tidak diterapkan karena perburuan oportunis, di mana spesies yang menjadi target adalah sekedar spesies yang pertama ditemui (lihat bagian NKT 5). Peraturan perburuan masyarakat perlu dirancang dengan cepat. Hal ini perlu dilakukan dengan bantuan LSM lokal dan internasional, pemerintah setempat, dan secara paralel dengan mengembangkan strategi pendukung / menciptakan alternatif pengganti perburuan.

Jalan di kawasan penebangan harus dipastikan agar tidak dapat dimasuki segera setelah operasi dalam blok penebangan tersebut selesai guna mengurangi kesempatan perburuan (serta penebangan ilegal).

Banyak burung yang telah atau akan menjadi target perdagangan burung hidup. PT. SJM harus menerapkan kebijakan larangan jebakan untuk memelihara populasi burung yang menjadi target. Langkah ini akan membutuhkan perbaikan keamanan serta keterlibatan masyarakat.

 

2.     Pengelolaan hutan berkelanjutan.

Meijaard (2007) mengkaji sensitifitas mamalia Kalimantan terhadap penebangan. Tabel 16 berisi daftar spesies mamalia yang diperkirakan akan terkena dampak negatifkegiatan penebangan. Tiga diantaranya yang telahterdaftar selama survei adalah Landak Ekor Panjang (Trychis fasciculate) dicatat di lokasi survei hutan primer KM 69 dan KM 50, Macan Dahan (Neofelis nebulosa) dan Kucing Merah (Felis badia). Keseluruhannya tercatat di hutan primer dan hutan yang baru saja ditebang, di mana mereka mungkin bermigrasi dari hutan primer di sekitarnya karena mencari rusa, babi, keraatau satwa pengerat.

Tabel14. Spesies TTD di Borneo dengan perkiraan sensitifitas terhadap dampak penebangan. Dari Meijaard (2007).

Nama dalam Bahasa Inggris

Nama Latin

Dicatat selama Survei

Western tarsier

Tarsius bancanus

Tidak

Long-tailed porcupine

Trychis fasciculate

Ya

Clouded leopard

Neofelis nebulosa

Ya

Marbled cat

Felis marmorata

Tidak

Bornean bay cat

Felis badia

Ya

Banded linsang

Prionodon linsang

Tidak

Stink badger

Mydaus javanensis

Ya

Meskipun beberapa spesies hanya baru tercatat di hutan primer dan literatur menyebutkan bahwa beberapa di antaranya sensitifterhadap penebangan, kami meyakini bahwa sebagian besar mamalia mampu berpindah antar habitat sekunder, selama hutan primer dan hutan tegakan tinggimasih tersebar luas di seluruh konsesi (dipastikan dengan keberadaan beberapa kawasan hutan lindung di dalam dan di sekitar konsesi, dengan asumsi bahwa kawasan ini memang benar-benar terlindungi). Meijaard et al. (2007) juga menemukan bahwa endemik Borneo lebih sensitif terhadap penebangan daripada spesies yang tersebar luas. Banyak endemik Borneo yang terbatas pada hutan gunung yang ditetapkan sebaga Hutan Lindung, dan, umumnya, spesies-spesies ini relatifaman dari dampak penebangan pada konsesi. Akan tetapi, endemik dataran rendah Borneo diperkirakan menghadapi ancaman yang lebih tinggi dari adanya penebangan. Studi yang dilakukan oleh Meijaard (2007) juga mengindikasikan bahwa mamalia yang bersifat tidak toleran terhadap penebangan cenderung memiliki kantong ekologi yang sempit, dan banyak yang memiliki kebiasaan makan pemakan buah, pemakan daging, atau serangga. Mereka nampaknya khusus menggunakan strata hutan tertentu, terutama level semakatau kanopi atas, alih alih tersebar di seluruh tingkatan. Sebaliknya, mamalia yang toleran terhadap penebangan adalah herbivora atau omnivora. Kemampuan sebuah spesies untuk berpindah antar komponen makanan kemungkinan besar membuat mereka dapat melakukan kompensasi ketika penebangan secara langsung menurunkan ketersediaan makanan tertentu. Banyak dari spesies ini yang hidup di strata vegetasi yang lebih rendah, meskipun beberapa di antaranya ditemukan di seluruh tingkatan.

Penerapan Reduced Impact Loggingdan mempertahankan sedikitnya 25 pohon komersial>20 cm DBH per hektar DAN spesies TRP jenis lain yang ditemukan dalam petak penebangan (seperti Durian yang juga penting untuk masyarakat dan Orangutan) akan membantu mempertahankan banyak spesies yang sensitif terhadap penebanganyang terindentifikasi dalam kajian. Ketentuan resmi dalam TPTI adalah 25 pohon >20 cm DBH, namun hasil dari inventaris telahterbangan (ITT) menunjukkan bahwa perusahaan telah mencapai target tertinggi, dan keanekaragaman hayati di bawah NKT 1.3 masih tetap ada dalam skema silikultur tersebut. Banyak vertebrata yang spesifik di hutan (terutama amfibi, reptil dan burung interior hutan seperti ayam hutan, luntur, raja udang, paok dan berencet) yang menjadi alasan penetapan status NKT 1.3 tergantung pada Tegakan hutan tinggi primer untuk bertahan hidup, karena mereka membutuhkan kondisi teduh yang lembab, dengan tutupan semak yang tinggiuntuk persembunyian. Selain itu, seluruhnya relatifbersifat teritorial/menetap. Akan tetapi, spesies-spesies ini juga sudahdicatat di hutan bekas penebangan, meskipun mereka mungkin saja berpindah selama operasi penebangan. Perencanaan dan pembangunan jalan dan jalur harus direncanakan secara hati-hati dan dilakukan dengan cara yang dapat meminimalisir kerusakan kanopi. Hal-hal tersebut harus mengacu pada ukuran minimal yang direkomendasikan oleh trainer RIL, dan, bila memungkinkan, mempertahankan konektivitas kanopi.

Makanan penting (misalnya pohon buah dan banyan Ficus spp.), pohon habitat (misalnya tempat bersarang spesiesTTD) dan lokasi khusus, misalnya daerah mandi lumpur, kawasanriparian dan tanah sumber mineral (salt licks) (bila ditemukan), harus dipetakan selama perencanaan penebangan dan dihindari selama panen dan ekstraksi kayu. Banyan sangat penting bagi margasatwa liar karena menyediakan buah di sepanjang tahun, dan juga memenuhi kebutuhan nutrisi yang penting, misalnya kalsium yang dibutuhkan oleh vertebrata yang hidup dengan pola makan yang miskin-mineral (O’Brien et al. 1998). Banyan juga menyediakan habitat penting untuk banyak taksa mamaliamisalnya tarsier. Karena banyan memiliki kebiasaan bertunas di kanopi pohon lainnya, maka pentin untuk melindungi hutan primer untuk menyelamatkan banyan. Ini nampaknya merupakan satu-satunya langkah konservasi yang bisa dilakukan selama penebangan (Johns, 1992); akan tetapi, mengingat lamanya waktu yang dibutuhkan untuk tua, maka perlu dilakukan upaya-upaya untuk memelihara sebanyak mungkin banyan, terlepas dari usianya.

Banyak mamalia yang tergantung pada pohon besar, tua dan kosong termasuk beruang, musang, tupai, dan landak. Penetapan diameter penebangan maksimum dapat saja mempertahankan banyak pohon besar, tetapi dampaknya terhadap ekologi hutan dan ekonomi kehutanan masih membutuhkan pengujian. Rangkong memerlukan intervensi pengelolaan untuk mempertahankan jumlah pohon tempat bersarang semaksimal mungkin didalam kawasan konsesi. Para penebang harus mengkaji secara menyeluruh potensi adanya busuk jantung, yang berarti potensi adanya sarang rangkong, dan menghindari penebangan pohon non-komersil semacam itu.

Spesies yang sensitif air semisal musang air, Cynogale bennettii, lebih menyukai air jernih untuk berkembang biak dan makan. Sistem pembuangan air yang baik di jalan, serta jembatan dan gorong-gorongyang dibangun dan dipelihara dengan baik, sangatlah penting untuk menjaga agar aliran sungai tetap jernih.

 

3.    Pengelolaan spesies pohon TTD.

Rekomendasi pengelolaan yang sama untuk spesies dipterokarpa CR (NKT 1.2) berlaku untuk seluruh spesies yang tercakup di bawah NKT 1.3, yaitu pelatihan identifikasi spesies, pemetaan individual dan pengukuran populasi, identifikasi risiko panen terhadap populasi, dan perencanaan untuk mempertahankan sedikitnya 2 pohon tegakan di atas 20cm DBH per petak penebangan.

Koridor Margasatwatelah diusulkan sebagai metode memelihara nilai konservasi tinggi. Akan tetapi karena NKT 1.3 ditemukan di seluruh jenis hutan, baik yang ditebang maupun yang tidak, maka penggunaan koridor margasatwa tidak terbukti dan hanya bisa direkomendasikan untuk unit pengelolaan yang memiliki gangguan tingkat tinggi (misalnya di perkebunan perkebunan). PT. SJMsecara aktifmelakukan pencarian terhadap MonyetProbosisnamun belum ada buktiditemukan. Pengelolaankhusushutan riparian tidakdiusulkandalamNKT1.3sebagaimana habitatinidicakupdi dalam NKT4.1.

 

Rekomendasi Pemantauan untuk NKT 1.3

NKT 1.3 bertujuan untuk mempertahankan populasi dari spesies terancam, spesies sebaran terbatas dan spesies yang dilindungi. Survei Pemantauan harus dilakukan oleh staf PT. SJM yang telah mendapat pelatihan yang memadai dari LSM konservasi atau organisasi penelitian yang sudah terbukti berpengalaman memantau keanekaragaman hayati di Kalimantan Barat. Survei ini harus dilakukan setiap tahun dan menitikberatkan pada spesies TRP yang tercantum dalam Lampiran. Hasil kecenderungan populasi digunakan untuk mengevaluasi keseluruhan pengelolaan yang dilaksanakan oleh perusahaan.

Pemantauan dapat ditambahkan dengan laporan mengenai mamalia TRP, reptil dan penampakan burung, yang dicatat oleh supir truk, staf ITSP, dan staf konsesi lainnya. Buku Pegangan harus dikembangkan bersama dengan lembar identifikasi dan poster, dan didistribusikan di sekitar konsesi. Staf ITSP dan para penebang yang orang-orang paling berpotensi menemukan spesies TRP sehingga mereka harus didorong untuk mengisi formulir – mencatat waktu, tanggal, lokasi, segera setelah penampakan terjadi (kilometer jalan bagi para supir, nomor blok tebangan dan nomor garis jelajah bagi tim penjelajah).

  1. Staf keamanan harus mengawasi larangan perburuan yang ditetapkan oleh perusahaan, dan segera melaporkan adanya ketidaksesuaian. Staf keamanan dan personel yang bertanggung jawab di bidang keterlibatan masyarakat harus secara teratur mengawasi pengembangan peraturan perburuan, dan secara aktif melibatkan anggota masyarakat dalam pemantauan kawasan perburuan tradisional guna mengukur efektifitas peraturan dan penerapannya. Peraturan masyarakat yang tidak efektif menunjukkan perlunya pengelolaan yang adaptif agar keanekaragaman hayati dapat terus dijaga.
  2. Pengelolaan Hutan berkelanjutan adalah tema yang berulang kali muncul dalam laporan ini laporan. ITSP akan menyediakan data pemantauan untuk spesies pohon sebelum penebangan namun pemantauan harus dilakukan untuk mengawasi dampaknya terhadap keanekaragaman hayati. Hal ini dapat dilakukan melalui pemantauan SOP yang sudah ditetapkan untuk area TPTJ (aturan pemantauan 1 hektar (PSP) dibuat dalam tiap blok penebangan tahunan di mana spesies TRP dapat dimonitor pasca panen).
  3. Spesies tanaman diukur selama ITSP dan PSP namun tidak ada catatan yang dibuat untuk satwa. Pemantauan fauna TRP harus dalam bentuk survei berulang terhadap bagian dari konsesi yang terdampak oleh penebangan.

Pemantauan keanekaragaman hayati tambahan mungkin akan dibutuhkan apabila ada indikasi perburuan dan atau gangguan dalam konsesi. Informasi ini digunakan untuk mengkomunikasikan aksi pengelolaan untuk mengurangi dampak terhadap spesies TRp di masa mendatang.

 

 

NKT 1.4 Kawasan yang Merupakan Habitat bagi Spesies atau Sekumpulan Spesies yang Digunakan Secara Temporer

Spesies mungkin menggunakan beragam habitat di beberapa tahapan yang berbeda dalam siklus hidup mereka. Habitat ini dapat terletak dalam satu kawasan geografis. Penggunaan kawasan tersebut dapat bersifat musiman atau pada waktu tertentu misalnya saat ‘stress’ akibat cuaca ekstrim, tetapi sangat penting bagi populasi tersebut secara keseluruhan untuk bertahan hidup dan dapat disebut sebagai habitat kunci.

NKT 1.4 bertujuan mengidentifikasi lokasi habitat kunci seperti:

  • Hutan yang penting secara global karena mengandung konsentrasi musiman spesies tertentu, misalnya lokasi berkembang biak
  • Lokasi yang digunakan selama migrasi (misalnya lokasi yang menyediakan sumber makanan di sepanjang rute migrasi)
  • Koridor biologi yang memungkinkan satwa bermigrasi lokalantar ekosistem
  • Habitat yang membentuk tempat aman, atau perlindungan, bagi spesies tertentu di masa stres

Beragam kategori yang terdaftar di atas memiliki satu karakteristik utama – apabila habitat hilang atau menurun kualitasnya, maka populasi spesies yang tergantung padanya akan menderita. Ketika mengidentifikasi NKT 1.4, fitur habitat inilah yang dipertimbangkan. Kehadiran atau ketiadaan habitat berikut dapat memberi indikasi keberadaan NKT 1.4

  • Gua yang digunakan oleh kelelawar dan walet
  • Danau dan kawasan pantai yang penting bagi burung yang bermigrasi
  • Semak belukar pinggir sungai yang digunakan untuk sarang reptil (buaya dan penyu)
  • Salt-licks
  • Habitat yang memiliki konsentrasi besar makanan yang hanya tesedia musiman
  • Konsentrasi habitat sarang yang langka (misalnya pohon dengan lubang sarang yang cocok)

Identifikasi NKT 1.4

 

NKT

Pertanyaan Kunci

Temuan

1.4

Apakah kawasan izin mengandung habitat kunci yang sangat penting bagi populasi baik musiman, sesekali atau selama tahapan tertentu dalam siklus hidup mereka?

Berpotensi

Konsesi PT. SJM tidak mengandung kawasan batu kapur yang mungkin terdapat gua. Para pemburu biasanya merupakan sumber informasi yang penting mengenai ‘kawasan khusus’ di mana satwa dan burung berkumpul mencari makanan atau mineral. Hanya satu salt-lick yang tercatat dekat Beginci Darat (pada blok penebangan 2012,dekat KM 105). Informasi ini perlu dipastikan di lapangan sebelum daerah tersebut ditebang

Karena konsesi ini hampir seluruhnya berhutan dengan rentang ketinggian yang cukup luas (0-900m), tempat pengungsian (refugia)dan koridor untuk spesies penghuni hutan dalam konteks NKT 1.4 tidak dianggap ada (lihat NKT 1.3). Terdapat fragmentasi yang besar antara Taman Nasional Gunung Palung dan pegunungan Schwaner (di mana konsesi PT. SJM berada di ujung barat daya daerah tersebut), dan tidak ada bukti terdokumentasi atau alasan logis untuk mengasumsikan bahwa konsesi menyediakan “batu lompatan” penting antara hutan-hutan Gunung Palung dan pegunungan Schwaner. Pohon-pohon besar dengan lokasi sarang yang cocok (lubang di pohon, pohon kosong, dll.) diyakini cukup banyak di kawasan konsesi dan ‘pohon berlubang untuk sarang’ (misalnya oleh rangkong) tidak dianggap sebagai NKT 1.4.

Beberapa spesies yang bermigrasi juga didokumentasikan; akan tetapi, spesies ini tersebar sangat luas dan hadir di berbagai jenis habitat. Kemampuan bertahan hidup mereka sebagai sebuah spesies tidak bergantung pada apakah konsesi tetap menjadi hutan, dan karenanya mereka tidak dianggap sebagai NKT 1.4.

Tujuan Pengelolaan NKT 1.4

Kawasan-kawasan sementarayang mendukungspesiesataukelompokspesies(spesies kunci) dipertahankan.

Identifikasi dan Pemantauan NKT 1.4

Identifikasi dan perlindungan habitat kunci

Salt-lick harus diidentifikasi selama ITSP, ditandai secara jelas dan penyangga yang memadai diimplementasikan untuk penebangan nol (radius 50m).

Pemantauan harus mengisyaratkan pendokumentasian Salt-lick yang tidak terganggu setelah pemanenan.