default_mobilelogo

High Conservation Value Forest

Kawasan Konservasi Hutan Bernilai Tinggi

PT. SJM (anggota dari Alas Kusuma Group) adalah salah satu dari sedikit perusahaan di Indonesia, yang berusaha memperoleh sertifikasi untuk operasi pengelolaan hutan sesuai Prinsip dan Kriteria Forest Stewardship Council (selanjutnya disebut FSC). Sertifikasi tersebut mensyaratkan evaluasisecara menyeluruh dari 9 (sembilan) prinsip FSC, khususnya untuk hutan alam, termasuk pemeliharaan Hutan/Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (KBKT) seperti yang tercantum dalam Prinsip no. 9.Skema sertifikasi hanya diberikan kepada hutan yang dikelola secara berkelanjutan di mana perusahaan menunjukkan kesesuaian dengan seluruh prinsip FSC. PT. SJM bertujuan untuk mencapai sertifikasi FSC pada akhir 2011.

 

Pada Mei 2008, sebuah kemitraan telah ditandatangani antara PT. Suka Jaya Makmur (selanjutnya disebut PT. SJM) dengan Flora dan Fauna Internasional (FFI) guna mendukung pelaksanaan konservasi dan pengelolaan hutan pada hutan / kawasan bernilai konservasi tinggi (H/KBKT) di konsesi (IUPHHK) yang dikelola oleh PT. SJM. Konsesi tersebut terletak di Kabupaten Ketapang dan Melawi, Provinsi Kalimantan Barat.

 

Selanjutanya, FFI dan The Nature Conservancy (TNC) memprakarsai kemitraan untuk melaksanakan evaluasi NKT atas hutan alam produksi PT. SJM seluas 171.340 hektar. TNC/FFI telah melakukan asesmen nilai konservasi tinggi antara tanggal 24 Agustus dan 13 September 2008, dengan dukungan finansial dan logistik dari ProgramResponsible Asia Forestry and Trade(RAFT) dan PT. SJM. Asesmen tersebut mendapat dukungan dari tim ahli multi-disiplin yang berasal dari TNC, FFI dan PT. SJM (lihat Lampiran 1).Survei dilaksanakan terhadap konsesi seluas 171.340 hektar, terutama di wilayah-wilayah dataran rendah dan hutan perbukitan, untuk menilai keanekaragaman hayati, nilai-nilai jasa lingkungan, serta nilai sosial-ekonomi dan budaya dalam masyarakat yang berada di dalam dan di sekitar konsesi.

 

Pada Januari 2011, badan kontrol sertifikasi FSC yaitu Control Union Certifications (CUC) telah mengaudit laporan awal, yang kemudian menghasilkan berbagai Corrective Action Requests (CAR) mayor yang membutuhkan beberapa revisi. Revisi-revisi tersebut diusulkan oleh PT. Ekologika Consultants (yang disubkontrak untuk TNC sebagai pakar NKT). Setelah proses audit berikutnya di bulan Mei 2011, beberapa kekurangan yang terdapat di dalam laporan tersebut perlu mendapatkan perhatian lebih lanjut. Atas permintaan PT. SJM dan TFF dan dukungan keuangan dari The Borneo Initiative (TBI), PT. Ekologika Consultants dan Tim NKT PT.SJM melakukan finalisasi laporan, antara lain dengan melengkapi kekurangan data primer yang ada tetapi belum disusun dalam laporan, verifikasi data sekunder yang digunakan dalam versi sebelumnya dan klarifikasi informasi dari konsultasi stakeholder (yang dilaksanakan pada fase awal pengkajian serta konsultasi terakhir) .

 

Kajian NKT dan K/HBKT (Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi) merupakan langkah awal yang sangat penting dalam suatu proses panjang perbaikan pengelolaan, guna mempertahankan dan meningkatkan nilai intrinsik yang terdapat di kawasan hutan.

 

Tujuan

Tujuan khusus dari kajian ini adalah:

  • Mengevaluasi dan menentukan ada atau tidaknya Nilai-nilai Konservasi Tinggi (NKT) dalam wilayah penilaian (konsesi dan lanskap di sekitarnya), serta menggambarkan kondisi nilai-nilai tersebut dan ancaman yang dihadapi.
  • Membuat penentuan melalui delineasi spasial dari kawasan hutan yang mengandung Nilai-nilaiKonservasi Tinggi atau Kawasan Bernilai Konservasi Tinggi (High Conservation Value Forests/HCVF), dengan demikian dapat menggambarkan distribusi, struktur, komposisi dan/atau status dari nilai-nilai tersebut.

Menyediakan rekomendasi untuk pengelolaan dan pemantauan NKT dan NKTF pada konsesi, yang didasarkan atas pengetahuan menyeluruh dari pengelolaan hutan saat ini.

 

Perangkat KBKT

Tahun 1999, FSC telah mengembangkan sebuah konsep Hutan Bernilai Konservasi Tinggi untuk dipadukan ke dalam Prinsip dan Kriteria sertifikasi hutan (Jennings et al, 2003). Sebelum tahun 1999, telah dilakukan penerapan pendekatan pertumbuhan hutan jangka panjang, namun masih ditemui banyak kasus hilangnya fungsi ekologis hutan dan fungsi sosial maupun budaya yang terkandung dalam habitat hutan sekunder dan hutan terkelola.

 

Perangkat KBKT pertama kali dikembangkan oleh ProForest pada tahun 2003 (Jennings et al., 2003). Setahun berselang, yaitu pada 2004, ProForest dan SmartWood juga menerbitkan versi pertama perangkat KBKTyang spesifik untuk wilayah Indonesia. Perangkat Indonesia tersebut kemudian direvisi pada tahun 2008, dengan masukan komprehensif dari berbagai pemangku kepentingan dan penetapan ambang batas yang lebih spesifik, manakala sebuah nilai diidentifikasi sebagai Nilai-nilai Konservasi Tinggi. Pelaksanaan evaluasi Nilai Konservasi Tinggi semaksimal mungkin mengikuti definisi, kriteria dan metode yang diuraikan dalam Perangkat Indentifikasi Nilai Konservasi Tinggi di Indonesia (versi 2008).

Kriteria NKTdibagi dalam 6 kategori nilai dengan 13 sub-kategori yang ditunjukkan dalam Tabel sebagai berikut :

Tabel Nilai Konservasi Tinggi untuk Indonesia seperti yang didefinisikan dalam Perangkat untuk Identifikasi NKT diIndonesia (versi 2008)

Kategori Nilai-nilai Konservasi Tinggi

Sub-kategori

Deskripsi

NKT1Kawasan Keanekaragaman Hayati Tingkat Penting

1.1

Kawasan yang berisi atau menyediakan Fungsi Dukungan Keanekaragaman Hayati untuk Kawasan Perlindungan atau Konservasi

1.2

Spesies Hampir Punah

1.3

Kawasan yang berisi Habitat Layak untuk Populasi Spesies Langka, Terlarang dan Dilindungi

1.4

Kawasan yang berisiHabitat Sementara yang digunakan oleh Spesies atauKumpulan Spesies

NKT2 Lanskap & Dinamika Alamiah

2.1

Lanskap AlamiahBesar dengan kemampuanMenjaga Proses dan DinamikaEkologi Alamiah

2.2

Lanskap Alamiah yang berisidua atau Lebih Ekosistem Berkelanjutan

2.3

Kawasan yang berisiPerwakilan Populasi Spesies Paling Sering Muncul

NKT3 Ekosistem Langka atau Terancam Punah

3

Ekosistem Langka atau Terancam

NKT4Lingkungan Berjasa

4.1

KawasanatauEkosistemPentinguntukPenyediaanAirdanPencegahanBanjiruntukMasyarakatHilir

4.2

KawasanPenting untukPencegahanErosidanSedimentasi

4.3

Kawasan yang Berfungsi Sebagai Sekat Alam untuk Mencegah Meluasnya Kebakaran Hutan dan Lahan

NKT5 Kebutuhan Dasar untuk Komunitas

5

Kawasan Alamiah Kritis untuk Pemenuhan Kebutuhan Dasar Masyarakat Lokal

NKT6 Identitas Budaya Komunitas

6

Kawasan Kritis untuk Mempertahankan Identitas Budaya dari Komunitas Lokal