user_mobilelogo

KEGIATAN EKOLOGI DI PT. SUKA JAYA MAKMUR

Hutan merupakan sumber daya alam yang dapat memberikan manfaat secara langsung maupun tidak langsung yang cukup besar kepada manusia, baik dalam manfaat secara ekologis maupun secara ekonomis. Oleh sebab itu, dalam pemanfaatan sumberdaya hutan perlu pengelolaan secara bijaksana dan tepat berdasarkan prinsip pemanfaatan secara lestari. Pemanfaatan sumber daya tersebut perlu memperhatikan lingkungan disekitarnya.

Beberapa kegiatan ekologi yang dilakukan PT. Suka Jaya Makmur, antara lain :

1. Analisis Cuaca
  a.

Curah hujan total di camp Gn. Bunga adalah 3.896,64 Mm / tahun dan di camp Sei Tigal adalah 3.995,44 Mm / tahun, serta secara keseluruhan areal PT. Suka Jaya Makmur adalah 3.946,04 Mm / tahun.

  b.

Suhu udara di camp Gn. Bunga adalah 29,05 °C pagi hari, 32,89 °C siang hari dan 33,14 °C sore hari sedangkan di camp Sei Tigal adalah 29,29 °C pagi hari, 33,09 °C siang hari dan 33,33 °C sore hari. Secara keseluruhan suhu udara di areal PT. Suka Jaya Makmur adalah 29,17 °C pagi hari, 32,99 °C siang hari dan 33,24 °C sore hari

  c.

Kelembaban udara di camp Gn. Bunga adalah 97,52% pagi hari, 86,73% siang hari dan 86,30% sore hari sedangkan di camp Sei Tigal adalah 97,14% pagi hari, 86,29% siang hari dan 85,95% sore hari. Secara keseluruhan rerata kelembaban udara di areal PT. Suka Jaya Makmur adalah 97,33% pagi hari, 86,51% siang hari dan 86,13% sore hari.

  d.

Indeks erosivitas hujan (EI30) di camp Gn. Bunga adalah 4,07 dan di camp Sei Tigal adalah 3,67. Secara keseluruhan rerata indeks erosivitas hujan di areal PT. Suka Jaya Makmur adalah 3,87 yang termasuk kategori sedang. Indeks ini dipengaruhi oleh jumlah curah hujan rata–rata, jumlah hari hujan dan curah hujan maksimum.

  e.

Klasifikasi iklim menurut Schmidt & Ferguson (1951) di camp Gn. Bunga dan di camp Sei Tigal adalah tipe A dengan kategori sangat basah (very wet) dengan jumlah 11 bulan basah (BB), 0 bulan lembab (BL) dan 1 bulan kering (BK). Nilai Q0,091 yaitu hasil pembagian BK : BB. Ini berarti selama kegiatan pemanfaatan hasil hutan di areal PT. Suka Jaya Makmur tidak berdampak mengubah Tipe Iklim.

 

2. Analisis Erosi
  a.

Secara keseluruhan di areal PT. Suka Jaya Makmur rerata erosi tanah potensial yang terjadi adalah 48,40 Ton/Ha/Thn dengan kategori TBE Ringan.

  b.

Erosi tanah potensial yang terjadi pada lokasi eks tebangan 1 tahun (Et+1) adalah 57,76 Ton/Ha/Thn dengan kategori TBE Ringan, pada lokasi eks tebangan 2 tahun (Et+2) adalah 47,59 Ton/Ha/Thn dengan kategori TBE Ringan dan pada lokasi eks tebangan 3 tahun (Et+3) adalah 39,85 Ton/Ha/Thn dengan TBE Ringan. Terjadinya penurunan erosi tanah dan penurunan kategori TBE disebabkan adanya kegiatan penanaman/rehabilitasi dan pengelolaan lingkungan.

  c.

Erosi terkecil terjadi pada lokasi plot vegetasi alam eks tebangan yaitu 32,54 Ton/Ha/Thn dengan kategori TBE Ringan, hal ini disebabkan perubahan vegetasi hanya terjadi pada saat kegiatan penebangan, setelah itu nyaris tidak dipengaruhi kegiatan lain yang bersifat membuka hutan lagi sehingga keterbukaan hutan eks tebangan relatif kecil.

  d.

Erosi terbesar pada lokasi jalan logging yaitu 59,27 Ton/Ha/Thn dengan kategori TBE Ringan, hal ini karena pada awalnya jalan logging merupakan areal yang terbuka tanpa penutupan vegetasi secara langsung terutama setelah penebangan atau Et+1. Oleh sebab itu jika terjadi hujan, maka titik–titik air hujan akan langsung mengerus tanah yang ada di jalan logging. Namun erosinya semakin berkurang setelah Et+2 dan Et+3 karena sudah ditumbuhi tanaman cover crop dan vegetasi berkayu lainnya.

  e.

Beberapa faktor penyebab erosi antara lain sifat tanah, topografi (kelerengan/slope) vegetasi, curah hujan dan manusia. Faktor dominan yang menyebabkan terjadinya erosi tanah adalah kelerengan/slope, vegetasi dan manusia.

  f.

Untuk mengurangi laju erosi dan tingkat bahaya erosi (TBE) maka sebaiknya melakukan tindakan pengelolaan lingkungan antara lain pembuatan trap-trap erosi, sodetan-sodetan jalan sarad, penanaman fast growing species, sungkai dan cover-crop serta pembersihan jalur tanam semak–semak atau tumbuhan bawah terutama serasah dijadikan mulsa untuk mengurangi laju erosi dan menjaga kelembaban.

  g.

Erosi yang terjadi di areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur termasuk kategori TBE Ringan yang mengindikasikan bahwa selama kegiatan pemanfaatan hasil hutan di PT. Suka Jaya Makmur tidak berdampak merusak secara signifikan.

 

3. Monitoring Kerusakan Vegetasi
  a. Struktur tegakan / kerapatan (N/Ha) dan jumlah permudaan (N) di Blok RKT 2019 CO eks tebangan tahun 2020 telah melebihi syarat kecukupan permudaan berdasarkan kriteria pedoman dari pelaksanaan sistem TPTI dari Departemen Kehutanan, baik sebelum penebangan maupun setelah penebangan.
  b. Jenis-jenis kelompok komersil mendominasi struktur tegakan/kerapatan pada tingkatan pohon, tiang, pancang dan semai pada areal Blok RKT 2019 CO eks tebangan tahun 2020, baik sebelum penebangan maupun setelah penebangan.
  c.

Kerusakan tegakan tinggal pada tingkat permudaan semai 10,87%, pancang 7,18%, tiang 19,65% dan pada tingkat pohon 12,83% dengan rata-rata tingkat kerusakan sebesar 12,63% sehingga kerusakannya ≤ 15% termasuk kedalam Kategori Rendah. Hal ini membuktikan penerapan RIL dalam kegiatan pemanenan hutan berpengaruh signifikan terhadap efektifitas dalam mengurangi tingkat kerusakan tegakan tinggal.

 

4. Analisis Quantitative Jenis CR dan TRP
  a.

Semua jenis CR, TRP dan Endemic menunjukan struktur kelas umur (diameter) tipe II berbentuk J terbalik.

  b.

Semua jenis CR, TRP dan Endemic pohon inti berdiameter 20-49 cm jumlahnya sama atau lebih banyak dibandingkan jumlah pohon produksi (50 cm up), kecuali jenis mersawa, sehingga membentuk model kurva J terbalik. Hal ini mengimplikasikan bahwa walaupun pohon produksi ditebang namun pohon inti dengan kelas umur dibawahnya akan menggantikan posisinya menempati stratum teratas dalam ekosistem hutan tersebut.

  c.

Penebangan harus selektif atau tebang pilih berdasarkan diameter limit yang diperbolehkan atau mempertahankan sedikitnya 2 pohon induk penghasil benih (diameter > 50 cm DBH) per petak penebangan.

  d.

Kerapatan/potensi dan jumlah pohon inti dari kelompok komersil maupun keselu-ruhan, masih cukup banyak dan memenuhi atau melebihi ambang syarat minimal ketentuan standar TPTI.

 

5. Analisis Keanekaragaman Satwa pada Lokasi Sebelum Penebangan Dan Eks Tebangan
  a.

Jumlah jenis satwa meningkat pada semua lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) dan semua kelompok satwa, yaitu burung +1 jenis, mamalia +3 jenis, primata +1 jenis, reptilia +1 jenis dan keseluruhan +8 jenis satwa, dibandingkan lokasi sebelum penebangan (ET+0).

  b.

Jumlah perjumpaan satwa meningkat pada semua lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) dan semua kelompok satwa, yaitu burung +21 perjumpaan, mamalia +6 perjumpaan, primata +22 perjumpaan, reptilia +8 perjumpaan dan keseluruhan +52 perjumpaan satwa, dibandingkan lokasi sebelum penebangan (ET+0).

  c.

Densitas satwa meningkat pada semua lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) dan semua kelompok satwa, yaitu burung +2,44 individu/Ha, mamalia +0,68 individu/Ha, primata +0,34 individu/Ha, reptilia +0,60 individu/Ha dan keseluruhan +4,06 individu/Ha dibandingkan lokasi sebelum penebangan (ET+0).

  d.

Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) satwa liar mempunyai kecenderungan meningkat pada semua lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) dibandingkan lokasi sebelum penebangan (ET+0) yaitu pada kelompok burung, mamalia, primata, reptilia yang secara keseluruhan indeksnya meningkat, terlihat dari kategorinya yaitu kelompok burung kategorinya tetap sama posisinya yaitu termasuk kategori Tinggi, kelompok mamalia meningkat kategorinya dari Sedang menjadi kategori Tinggi, sedangkan kelompok primata dan reptilia juga meningkat kategorinya dari Rendah menjadi kategori Sedang.

  e.

Indeks Kemerataan/Kelimpahan Jenis (E) pada semua kelompok satwa dari burung, mamlia, primata, reptilia dan keseluruhan mempunyai nilai indeks E > 0,6 pada semua lokasi yaitu lokasi sebelum penebangan (ET+0) dan eks tebangan (ET+1,3,6,9), yang termasuk kategori Tinggi, artinya jenis-jenis pada semua kelompok satwa menyebar merata dalam komunitas yang stabil

  f.

Indeks Kekayaan Jenis (R1) pada kelompok burung, mamalia, primata dan keseluruhan mempunyai nilai indeks R1 > 5 pada semua lokasi yaitu sebelum penebangan (ET+0) dan eks tebangan (ET+1,3,6,9) yang termasuk kategori Tinggi, artinya banyak memiliki kekayaan jenis dalam komunitasnya. Sedangkan pada kelompok reptilia memiliki nilai R1 < 3,5 pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) dan eks tebangan (ET+1,3,6,9), yang termasuk kategori Rendah, artinya sedikit memiliki kekayaan jenis dalam komunitas populasinya.

  g.

Status perlindungan satwa berdasarkan kelompok satwa mengalami peningkatan pada semua lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) yaitu burung +3 jenis, mamalia +5 jenis, primata +2 jenis, reptilia +4 jenis dan keseluruhan +14 jenis satwa, dibandingkan lokasi sebelum penebangan (ET+0).

  h.

Status perlindungan satwa berdasarkan peraturan nasional dan internasional, jumlahnya meningkat pada semua lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) yaitu IUCN +12 jenis, CITES +8 jenis, Endemik +1 jenis dan GOI +9 jenis serta keseluruhan +14 jenis, dibandingkan lokasi sebelum penebangan (ET+0).

  i.

Secara umum semua parameter memiliki dampak positif, ini menunjukan bahwa aktivitas pemanenan hutan dengan penerapan prinsip Reduced Impact Logging (RIL) tidak berdampak negatif malah sebaliknya ada berdampak positif terhadap perubahan kondisi satwa di areal bekas tebangan.

 

6. Kajian Analisis Keanekaragaman Vegetasi Sebelum dan Eks Tebangan
  a. Vegetasi Berkayu
  a.1 Jumlah jenis semua tingkatan vegetasi (semai, pancang, tiang dan pohon) di lokasi blok sebelum penebangan (ET+0) terdapat 58 jenis, eks tebangan 1 tahun (ET+1) 60 jenis, eks tebangan 3 tahun (ET+3) 57 jenis, eks tebangan 6 tahun (ET+6) 58 jenis dan eks tebangan 9 tahun (ET+9) 69 jenis. Secara keseluruhan pada lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) terjadi penambahan jenis sebanyak 21 jenis terdiri dari 12 jenis komersil dan 9 jenis non komersil, dibandingkan dengan lokasi sebelum penebangan (ET+0).
  a.2 Kerapatan jenis dari tingkat pohon, tiang, pancang dan semai pada lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) nilainya bervariasi terjadi peningkatan dan penurunan dibandingkan lokasi sebelum penebangan (ET+0) namun semuanya masih memenuhi ambang batas yang dipersyaratkan sesuai standar kecukupan tegakan tinggal berdasarkan Juknis TPTI (1989) dan Peraturan Menteri Kehutanan No.P.18/Menhut-II/2004, yaitu tegakan tinggal dianggap cukup jika jumlah pohon 25 batang/Ha, tiang 75 btg/Ha, pancang 200 btg/Ha dan semai 400 btg/Ha
  a.3 Jumlah jenis vegetasi INP > 15 pada lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) terjadi penambahan pada semua tingkatan vegetasi (semai, pancang, tiang dan pohon) dibandingkan lokasi blok sebelum penebangan (ET+0) yaitu semai 3 jenis, pancang 5 jenis, tiang 1 jenis dan pohon 6 jenis, dan secara keseluruhan terjadi penambahan 6 jenis yaitu dari 10 jenis menjadi 16 jenis dengan vegetasi kelompok komersil yang mendominasi relatif sama jenisnya antara lokasi sebelum dan setelah pemanenan hutan.
  a.4 Pola pemusatan / Indeks Dominasi (C) vegetasi tingkat semai dan pancang pola penyebaran jenisnya lebih terpusatkan/mengelompok atau dominasi vegetasi lebih terkonsentrasi pada satu jenis. Sebaliknyvegetasi tingkat tiang dan pohon pola penyebarannya lebih tersebar tidak terpusat/mengelompok atau dominasi vegetasi secara bersama-sama oleh beberapa jenis, sehingga faktor pemanenan hutan tidak mengubah / mempengaruhi pola pemusatan jenis vegetasi, yang terbukti dari pola pemusatan jenis vegetasi yang tidak berubah pada lokasi hutan sebelum penebangan (ET+0) dan eks tebangan (ET+1,3,6,9).
  a.5 Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) pada semua tingkatan yaitu semai, pancang, tiang dan pohon pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) dan eks tebangan (ET+1,3,6,9) semuanya termasuk kategori Tinggi. Ini menunjukan bahwa faktor pemanenan hutan tidak menurunkan H’ dan kategori keanekaragaman jenis tidak berubah pada lokasi antara sebelum dan setelah pemanenan hutan.
  a.6 Indeks Kemerataan/Kelimpahan (E) pada semua tingkatan yaitu semai, pancang, tiang dan pohon pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) dan eks tebangan (ET+1,3,6,9) semuanya termasuk kategori Tinggi, menandakan jenis vegetasi tersebar merata dan sangat melimpah/ merata dalam komunitasnya. Ini mengindikasikan faktor pemanenan hutan tidak menurunkan E dan kategori kemerataan/kelimpahan jenis tidak berubah pada lokasi antara sebelum dan setelah pemanenan hutan.
  a.7 Indeks Kekayaan Jenis (Richness) Margallef (R1) pada tingkat semai dan pancang pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) dan eks tebangan (ET+1,3,6,9) termasuk kategori Rendah, sedangkan tingkat tiang dan pohon termasuk kategori Tinggi. Ini memperlihatkan faktor pemanenan hutan tidak menurunkan R1 dan kategori kekayaan jenis tidak berubah pada lokasi antara sebelum dan setelah pemanenan hutan.
  a.8 Status Perlindungan Vegetasi, terjadi penambahan 5 jenis vegetasi yang dilindungi yaitu dari 14 jenis pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) menjadi 19 jenis pada lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) yaitu jenis durian burung, kapur, lahong, pekebungan dan resak. Penambahan 5 jenis yang terdiri dari 3 jenis komersil dan 2 jenis non komersil menunjukan rendahnya dampak negatif kegiatan pemanenan hutan produksi sehingga tidak mengubah atau menurunkan malah meningkatkan jumlah jenis vegetasi yang dilindungi. Jumlah jenis yang dilindungi pada lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) ada 19 jenis terdiri dari 13 jenis komersil, 6 jenis non komersil.
  b. Vegtasi Nir-Kayu
  b.1 Jumlah jenis vegetasi nir-kayu pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) anggrek 9 jenis, palem 3 jenis dan kantong semar nihil sedangkan pada lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) anggrek 9 jenis, palem 5 jenis dan kantong semar nihil. Penambahan 2 jenis palem pada lokasi eks tebangan menunjukan rendahnya dampak pemanenan hutan produksi terhadap vegetasi nir-kayu karena menerapkan pemanenan ramah lingkungan prinsip RIL.
  b.2 Kerapatan jenis anggrek dan palem mengalami sedikit penurunan nilai disebabkan adanya penebangan pohon masak tebang (pohon produksi) sebagai pohon inang menempelnya anggrek (epifit) dan kerusakan vegetasi nir-kayu palem akibat tertimpa pohon yang tumbang namun secara umum tidaklah berpengaruh signifikan karena jumlah jenisnya mengalami penambahan pada lokasi eks tebangan.
  b.3 Jumlah jenis vegetasi nir-kayu INP > 15 pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) 8 jenis terdiri dari 5 jenis anggrek, 3 jenis palem dan kantong semar nihil, sedangkan lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) 10 jenis terdiri dari 6 jenis anggrek, 4 jenis palem dan kantong semar nihil. Penambahan 2 jenis vegetasi nir-kayu yang memiliki INP > 15 yaitu 1 jenis anggrek dan 1 jenis palem. Secara umum tidak terjadi perubahan besar yang signifikan terhadap jumlah dan jenis dominan atau sangat berperan (INP > 15) dari jenis vegetasi nir-kayu pada lokasi sebelum penebangan dan lokasi eks tebangan.
  b.4 Pola pemusatan / Indeks Dominasi (C) pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) dan lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9) jenis palem memiliki pola penyebaran jenisnya lebih terpusatkan atau mengelompok atau dominasi vegetasi lebih terkonsentrasi pada satu jenis. Sebaliknya anggrek memiliki pola penyebaran jenisnya lebih tersebar tidak terpusat/mengelompok atau dominasi vegetasinya secara bersama-sama oleh beberapa jenis. Hal ini menunjukan bahwa faktor pemanenan hutan tidak mengubah/mempengaruhi pola pemusatan jenis vegetasi nirkayu, yang terbukti dari pola pemusatan jenis yang tidak berubah pada lokasi sebelum penebangan dan lokasi eks tebangan.
  b.5 Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) anggrek termasuk kategori Sedang dan palem termasuk kategori Rendah pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) dan lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9). Ini menunjukan bahwa faktor pemanenan hutan tidak menurunkan nilai H’ dan kategori keanekaragaman jenis tidak berubah atau stabil pada lokasi sebelum penebangan dan eks tebangan.
  b.6 Indeks Kemerataan/Kelimpahan (E) anggrek dan palem termasuk kategori Tinggi pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) dan eks tebangan (ET+1,3,6,9). Ini memperlihatkan bahwa faktor pemanenan hutan tidak menurunkan E dan kategori kemerataan/kelimpahan jenis tidak berubah atau stabil pada lokasi sebelum penebangan dan eks tebangan.
  b.7 Indeks Kekayaan Jenis (Richness) Margallef (R1) vegetasi nir-kayu anggrek dan palem termasuk kategori Rendah pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) dan lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9), namun kategori R1 tidak berubah atau stabil pada lokasi sebelum penebangan dan eks tebangan menunjukan faktor pemanenan hutan tidak mempengaruhi secara signifikan perubahan Indeks Kekayaan Jenis (Richness) Margallef (R1).
  b.8

Status Perlindungan Vegetasi Nir-Kayu yang dilindungi oleh pemerintah maupun dunia internasional (IUCN dan CITES) terdapat 2 jenis, terdiri dari 1 jenis dari family Orchidaceae yaitu anggrek tebu (Gramatophyllum speciosum) yang dilindungi Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 dan 1 jenis dari family Palmae/Arecaceae yaitu daun payung (Johannesteijs-mannia altifrons) berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 106 Tahun 2018, pada lokasi sebelum penebangan (ET+0) dan lokasi eks tebangan (ET+1,3,6,9). Ini memperlihatkan bahwa faktor pemanenan hutan tidak mengubah jumlah dan jenis vegetasi nirkayu yang dilindungi, terbukti dari jumlah dan jenis yang dilindungi tetap sama atau stabil pada lokasi sebelum penebangan dan eks tebangan.

 

7. Laporan Monitoring Vegetasi Blok RKT 2019 Carry Over
  a. Pada Blok RKT 2019 CO eks tebangan 2020 jumlah jenis vegetasi tegakan tinggal untuk permudaan tingkat semai 18 jenis, pancang 20 jenis, tiang 36 jenis, pohon 61 jenis dan semua tingkatan dari semai sampai dengan pohon 63 jenis. Sedangkan kerapatan atau potensi vegetasi jenis komersil pada tingkat semai 4.895 btg/Ha, pancang 1.014 btg/Ha, tiang 98 btg/Ha dan pohon 50 btg/Ha yang semuanya melebihi standar kecukupan permudaan tegakan tinggal dari Departeman Kehutanan sehingga tidak perlu dilakukan kegiatan Pengayaan di areal berhutan kurang permudaan, namun bisa melakukan kegiatan Rehabilitasi pada areal terbuka sementara seperti bekas TPn, jalan sarad, jalan cabang, bekas camp atau lokasi terbuka lainnya.
  b. Berdasarkan nilai INP,jenis vegetasi yang sangat berperan / berpengaruh di komunitasnya dari tingkat pohon sampai dengan semai adalah jenis medang, ubar, meranti merah dan pisang-pisang.
  c. Indeks Dominasi (C) vegetasi tingkat semai dan pancang, pola penyebaran jenis lebih terpusat/mengelompok dengan kata lain dominasi vegetasi lebih terkonsentrasi pada satu jenis saja. Sedangkan vegetasi tingkat tiang dan pohon pola penyebaran jenisnya lebih tersebar tidak terpusat/mengelompok dengan kata lain dominasi vegetasinya secara bersama-sama oleh beberapa jenis.
  d. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) semua tingkatan vegetasi dari tingkat pohon, tiang, pancang dan semai termasuk kategori Tinggi, artinya keanekaragaman jenis vegetasinya sangat banyak dalam komunitas vegetasi.
  e. Indeks Kemerataan (E) semua tingkatan vegetasi mulai dari tingkat semai, pancang, tiang dan pohon termasuk kategori Tinggi untuk kemerataan atau kelimpahan jenisnya, artinya jenis-jenis pada tingkatan pohon tersebar merata dalam komunitas vegetasi.
  f. Indeks Kekayaan Jenis (R1) vegetasi tingkat pohon dan tiang termasuk kategori Tinggi, artinya kekayaan jenisnya banyak dalam komunitasnya, sedangkan pada tingkat pancang dan semai termasuk kategori Rendah, artinya kekayaan jenis vegetasinya hanya sedikit di dalam komunitas.
  g. Jenis–jenis yang dilindungi oleh pemerintah maupun dunia internasional (IUCN dan CITES) terdapat 15 jenis, terdiri dari 10 jenis yang dilindungi IUCN (4 jenis CR, 2 EN, 4 VU), 7 jenis endemik Kalimantan (2 jenis endemik sekaligus IUCN) dan 1 jenis berdasarkan GOI atau CITES.
  h. Jenis-jenis yang dilindungi oleh pemerintah dan dunia internasional (IUCN dan CITES) yang tergolong kelompok kayu komersil, kebanyakan mempunyai INP > 1 artinya jenis-jenis tersebut tidak langka, malah berperanan penting serta berpengaruh pada komunitas hutan. Namun perlu pengelolaan pemanenan yang menerapkan prinsip-prinsip pemanenan ramah lingkungan atau Reduced Impact Logging (RIL) secara berkelanjutan.
  i.

Jumlah jenis vegetasi nir-kayu anggrek 9 jenis, palem 4 jenis dan tidak diketemukan jenis kantong semar, dengan kerapatan atau potensi vegetasi anggrek 14,30 N/Ha, palem 4,80 N/Ha dan kantong semar nihil. Berdasarkan nilai INP > 15, anggrek ada 6 jenis dan palem 2 jenis termasuk kategori Sangat Berperanan, serta memiliki 2 jenis yang dilindungi yaitu anggrek tebu berdasarkan PP No. 7 / 1999 dan vegetasi daun payung / daun sang gajah berdasarkan P.106 / 2018 (GOI).

 

8. Pengelolaan dan Monitoring HCVF Periode Tahun 2020
 

Berdasarkan hasil pengelolaan dan monitoring HCVF di PT. Suka Jaya Makmur bahwa secara keseluruhan masih sesuai kriteria atau ambang yang diperbolehkan (stabil) sehingga tidak  memerlukan perubahan rencana kerja.

 

9. Monitoring Ikan Tahun 2021
  a. Jumlah jenis dan family ikan yang terdapat di dalam areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur tahun 2021 adalah 56 jenis dan 15 family.
  b.

Jenis-jenis ikan yang teridentifikasi dari hasil monitoring di areal IUPHHK PT. Suka Jaya Makmur, tidak terdapat jenis ikan yang dilindungi berdasarkan status perlindungan IUCN, CITES, Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 dan Peraturan Menteri LHK Nomor P.106 Tahun 2018.

 

10. Monitoring Satwa Liar Blok RKT 2019 Carry Over
  a. Monitoring satwa metode Line Transect pada Blok RKT 2019 CO eks tebangan tahun 2020, dijumpai 42 jenis satwa terdiri dari 18 jenis burung, 13 jenis mamalia, 5  jenis primata dan 6 jenis reptilia, dengan densitas atau kepadatan individu secara keseluruhan adalah 16,74 individu/Ha terdiri dari kelas burung 12,12 individu/Ha, kelas mamalia 2,09 individu/Ha, kelas primata 2,04 individu/Ha dan kelas reptilia 0,49 individu/Ha.
  b. Jumlah sarang orangutan sebanyak 16 sarang dengan kelas sarang terbanyak yang diketemukan adalah sarang kelas III serta estimasi kepadatan sarangnya adalah 40 sarang/Km dengan estimasi densitas orangutan atau kepadatan individunya adalah 0,1303 individu/Km atau 0,0013 individu/Ha.
  c. Indeks keanekaragaman jenis (biodiversity) satwa liar secara keseluruhan mempunyai nilai H’ kategori Tinggi, kelas burung dan mamalia kategori Tinggi, artinya jumlah jenis satwa sangat banyak keanekaragaman jenisnya. Sedangkan kelas primata dan reptilia termasuk kategori Sedang, artinya jumlah jenis satwa cukup banyak keanekaragaman jenisnya.
  d. Jumlah keseluruhan satwa yang dilindungi sebanyak 33 jenis yaitu terdiri dari 12 jenis burung, 12 jenis mamalia, 5 jenis primata dan 4 jenis reptilia, sedangkan berdasarkan peraturan nasional dan international, terdapat 29 jenis yang dilindungi IUCN, 19 jenis yang dilindungi CITES, 2 jenis endemik borneo/Kalimantan dan 26 jenis yang dilindungi peraturan pemerintah (GOI) yaitu PP Nomor 7 Tahun 1999, dan Permen LHK Nomor P.106 MENLHK/SETJEN/ KUM.1/8/2018.
  e.

Satwa jenis endemik Borneo/Kalimantan yang ditemukan ada 2 jenis yaitu murai batu (Copsychus malabaricus) dan kelasi atau monyet merah (Presbytis rubicunda).

 

11. Monitoring Tanaman Eksotik Invasif (Akasia) Tahun 2021
  a. Penyebaran tanaman eksotik invasif jenis akasia di areal IUPHHK PT.Suka Jaya Makmur pada tahun 2021 adalah 5 lokasi yaitu Km 68, Km 71, Km 81, Km 93 dan Km 124. Telah dilakukan monitoring dan pengendalian (pemusnahan) terhadap tanaman akasia pada ke 5 lokasi yang ada tanaman eksotik invasif tersebut.
  b. Jumlah total pengendalian (pemusnahan) tanaman akasia sebanyak 1.765 btg atau 98,93% dari total 1.784 btg. Sebanyak 164 btg tingkatan tiang dan pohon sudah dikendalikan (dimusnahkan) dengan cara ditebang menggunakan chainsaw. Sebanyak 959 btg tingkatan pancang dikendalikan dengan ditebas menggunakan parang dan 642 btg tingkatan semai dikendalikan dengan cara dicabut.
  c.

Tanaman eksotik invasif jenis akasia (Acacia mangium) mempunyai biji yang mudah berkecambah dan pertumbuhan yang cepat serta mempunyai tingkat survival (daya hidup) yang tinggi maka pada lokasi-lokasi yang sudah dilakukan pengendalian jenis tersebut masih bisa tumbuh kembali sehingga perlu monitoring dan pengendalian berkelanjutan.

 

12. Monitoring Vegetasi dan Satwa di Sempadan Sungai. Seraman 2021
  a. Vegetasi 
  a.1 Vegetasi di Sempadan Sungai Seraman pada tingkat pohon (tree) ada 53 jenis, tingkat tiang 27 jenis, tingkat pancang 18 jenis, tingkat semai 18 jenis dan semua tingkatan 60 jenis. Sedangkan potensi atau kerapatan vegetasi komersil pada tingkat pohon 47 btg/Ha, tiang 174 btg/Ha, pancang 1.694 btg/Ha dan semai 10.294 btg/Ha maka semua tingkatan vegetasi telah memenuhi syarat kecukupan permudaan tegakan tinggal berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Nomor P.18/Menhut-II/2004, yaitu tegakan tinggal dianggap cukup apabila jumlah pohon komersil minimal 25 batang/Ha, tiang 75 btg/Ha, pancang 240 btg/Ha dan semai 1000 btg/Ha.
  a.2 Berdasarkan nilai INP jenis vegetasi yang sangat berperan / berpengaruh di komunitasnya dari tingkat pohon sampai dengan semai adalah jenis medang, sedangkan jenis lainnya seperti meranti merah, ubar, pisang-pisang, dsbnya, turut mendominasi (sangat berperan) pada sebagian tingkatan vegetasi namun tidak keseluruhan.
  a.3 Pola penyebaran jenis pada vegetasi tingkat pancang dan semai lebih terpusatkan atau mengelompok atau dominasi vegetasi lebih terkonsentrasi pada satu jenis karena memiliki nilai Indeks Dominasi (C) terbesar, sebaliknya pada vegetasi tingkat pohon dan tiang, pola penyebaran jenis lebih tersebar tidak terpusat/mengelompok atau dominasi vegetasinya secara bersama-sama oleh beberapa jenis karena memiliki nilai Indeks Dominasi (C) terkecil.
  a.4 Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) atau Biodiversity pada semua tingkatan vegetasi mulai dari pohon, tiang, pancang dan semai memiliki nilai H’ > 3 termasuk kategori Tinggi, untuk keanekaragaman jenis vegetasinya.
  a.5 Indeks Kemerataan / Kelimpahan (Equtability / Evennes) atau (E) pada semua tingkatan vegetasi mulai dari pohon, tiang, pancang dan semai memiliki nilai E > 0,6 termasuk kategori Tinggi, artinya jenis-jenis pada semua tingkatan vegetasi tersebar merata dalam komunitas.
  a.6 Indeks Kekayaan Jenis (Richness) dari Margallef (R1 nilai R1) vegetasi tingkat pohon mempunyai > 5,0 sehingga memiliki kekayaan jenis kategori Tinggi, pada tingkat tiang mempunyai 5,0 < R1 < 3,5 sehingga memiliki kekayaan jenis kategori Sedang serta tingkat pancang dan semai mempunyai nilai R1 < 3,5 berarti memiliki kekayaan jenis kategori Rendah.
  a.7 Jenis–jenis yang dilindungi oleh pemerintah (GOI) maupun dunia internasional (IUCN dan CITES) terdapat total 14 jenis, terdiri dari 10 jenis yang dilindungi IUCN (4 jenis CR, 1 EN, 5 VU), 6 jenis endemik Kalimantan (2 jenis endemik sekaligus IUCN) dan 1 jenis berdasarkan GOI / Regulasi Pemerintah (PP No. 7/1999 dan P.106/2018) dan / atau CITES.
  a.8 Jumlah jenis tumbuhan buah sebagai sumber pakan bagi satwa liar ditemukan sebanyak 28 jenis atau 47% dari total 60 jenis vegetasi.
  a.9 Jumlah jenis vegetasi nir-kayu jenis anggrek 8 jenis, palem 3 dan kantong semar nihil. Sedangkan kerapatan atau potensi vegetasi pada anggrek 14,06 N/Ha, palem 11,81 N/Ha dan kantong semar nihil
  a.10 Jenis anggrek didominasi 5 jenis yang sangat berperan yaitu anggrek hitam, anggrek bawang, anggrek bintang, anggrek bayungan sisandah dan anggrek tebu. Pada palem dikuasai 2 jenis yaitu rotan dan daun payung/daun sang gajah.
  a.11 Pola penyebaran jenis palem lebih terpusatkan atau mengelompok atau dominasi vegetasi lebih terkonsentrasi pada satu jenis. Sedangkan jenis anggrek menunjukan pola penyebaran jenis vegetasi lebih tersebar tidak terpusat/mengelompok atau dominasi vegetasinya secara bersama-sama oleh beberapa jenis.
  a.12 Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) / Biodiversity pada anggrek memiliki keanekaragaman jenis kategori Sedang dan pada palem memiliki keanekaragaman jenis kategori Rendah.
  a.13 Indeks Kemerataan / Kelimpahan (Equtability / Evennes) jenis anggrek mempunyai nilai kemerataan atau kelimpahan jenisnya termasuk kategori Tinggi, artinya jenis-jenis anggrek tersebar merata dalam komunitas vegetasi, sedangkan palem memiliki kemerataan atau kelimpahan jenisnya kategori Sedang yaitu jenis-jenis palem tidak tersebar merata dalam komunitas vegetasi.
  a.14 Indeks Kekayaan Jenis (Richness) dari Margallef (R1 jenis dengan kategori Rendah, yaitu miskin jenisnya) anggrek dan palem memiliki kekayaan
  a.15 Jenis–jenis vegetasi nir-kayu yang dilindungi oleh pemerintah maupun dunia internasional (IUCN dan CITES) terdapat 2 jenis yang dilindungi GOI, yaitu 1 jenis dilindungi Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 dan 1 jenis berdasarkan Peraturan Menteri LHK Nomor 106 Tahun 2018.
  b. Satwa Liar 
  b.1 Monitoring satwa keseluruhan terdapat 43 jenis terdiri dari 18 jenis burung, 13 jenis mamalia, 5 jenis primata dan 7 jenis reptilia, dengan estimasi densitas atau kepadatan satwa 18,81 individu/Ha terdiri dari kelas burung 12,86 individu/Ha, kelas mamalia 2,28 individu/Ha, kelas primata 2,89 individu/Ha dan kelas reptilia 0,77 individu/Ha.
  b.2 Jumlah sarang orangutan sebanyak 5 sarang dengan kelas sarang terbanyak sarang kelas III dan estimasi kepadatan sarangnya 16 sarang/Km kepadatan individunya adalah 0,0509 individu/Km serta estimasi densitas orangutan atau atau 0,0005 individu/Ha.
  b.3 Indeks Keanekaragaman Jenis Satwa (H’) secara keseluruhan pada ke 4 kelas satwa (burung, mamalia, primata dan reptilia) memiliki H’ = 11,36 termasuk kategori Tinggi, pada kelas burung dan kelas mamalia memiliki H > 3 termasuk kategori Tinggi, sedangkan pada kelas primata dan kelas reptilia memiliki 2 < H’ < 3 termasuk kategori Sedang.
  b.4 Berdasarkan jenis satwa yang dilindungi oleh peraturan pemerintah (GOI) maupun dunia internasional (IUCN dan CITES) secara keseluruhan 33 jenis yaitu pada kelas burung 12 jenis, kelas mamalia 12 jenis, kelas primata 5 jenis dan kelas reptilia 4 jenis. Sedangkan berdasarkan peraturan nasional dan international, terdapat 29 jenis yang dilindungi IUCN, 19 jenis yang dilindungi CITES, 2 jenis endemik Kalimantan dan 26 jenis yang dilindungi peraturan pemerintah (GOI).
  b.5 Jenis satwa yang dilindungi pada kelas burung 12 jenis terdiri dari 11 jenis dilindungi IUCN, 7 jenis dilindungi CITES, 1 jenis endemik dan 10 jenis dilindungi GOI. Pada kelas mamalia 12 jenis yang dilindungi terdiri dari 12 jenis dilindungi IUCN, 5 jenis dilindungi CITES, 0 jenis endemik dan 12 jenis dilindungi GOI. Pada kelas primata 5 jenis yang dilindungi terdiri dari 5 jenis dilindungi IUCN, 5 jenis dilindungi CITES, 1 jenis endemik dan 3 jenis dilindungi GOI. Pada kelas reptilia 4 jenis yang dilindungi terdiri dari 1 jenis dilindungi IUCN, 2 jenis dilindungi CITES, tidak ada jenis endemik dan 1 jenis yang dilindungi oleh GOI.
  b.6 Satwa jenis endemik Kalimantan yang ditemukan ada 2 jenis yaitu burung murai batu (Copsychus malabaricus) dan kelasi atau monyet merah (Presbytis rubicunda).