Pada tanggal 9-17 Agustus 2020 telah dilakukan kegiatan monitoring populasi dan distribusi orangutan di konsesi PT. Suka Jaya Makmur (PT. SJM) di blok bagian utara. Area konsesi HPH PT SJM di blok bagian Utara memiliki luas +130.000 ha. Hutan yang ada di lokasi ini merupakan tipe hutan dataran rendah dipterocarpaceae. Topografi mulai dari landai, bergelombang ringan sampai terjal dengan ketinggian antara 50 – 700 m dpl. Kegiatan ini berhasil melakukan monitoring di 19 transek yang sama dengan transek monitoring pada tahun 2010 dan tahun 2012. Dari 19 transek, hanya 5 transek yang tidak dijumpai sarang orangutan. Hasil temuan   sarang   di seluruh lokasi pengamatan   diperoleh   sebanyak 185 sarang yang masing-masing 154 sarang   ditemukan di dalam jalur transek dan 31 sarang dijumpai di luar jalur  transek.

Pada monitoring kali ini juga ditemukan sarang orangutan yang berada di posisi 0 atau posisi sarang orangutan yang berada di tanah. Hal ini sesuai dengan informasi staf dari PT. SJM yang beberapa kali bertemu dengan orangutan yang sudah tua. 

Perjumpaan dengan orangutan secara langsung tidak ada, namun Manager camp menunjukan dokumentasi hasil perjumpaan orangutan secara langsung pada bulan Juli 2020, dilokasi ex camp. Saat itu orangutan (induk dan anak) sedang memakan buah. Populasi orangutan di lokasi PT SJM bagian utara sebanyak 1,38 - 1,5 ind/km2 atau 276 – 300 individu. Populasi orangutan di bagian utara lokasi PT SJM secara umum menurun dalam 10 tahun terakhir. Namun jika dibandingkan hasil survei tahun 2010 (1,9 - 2,1 ind/km2), penurunan tersebut tidak terlalu signifikan.

Dalam monitoring kali ini beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya temuan indikasi keberadaan orangutan melalui sarang maupun temuan langsung dengan individunya dikarenakan tidak adanya pohon pakan yang sedang berbuah di lokasi pengamatan. Beberapa jenis buah favorit seperti Ficus spp. dan jenis buah berdaging saat ini tidak ditemui yang sudah matang.

Faktor lain yang menyebabkan kurangnya hasil temuan dengan orangutan baik secara langsung maupun indikasinya adalah perubahan dari kondisi hutan. Sebagian besar sampling transek yang ada masuk dalam RKT yang baru (2015 – 2020) sehingga besar kemungkinan orangutan yang ada menjauh  ke  lokasi  lainnya  seperti kawasan hutan lindung yang tidak banyak aktifitas penebangan. Hasil identifikasi vegetasi, ditemukan bahwa hutan yang belum ada tebangan jumlah pohon dan jenis lebih kaya, namun untuk jenis pakan orangutan masih sebanding atau tidak jauh berbeda,  43% merupakan pakan orangutan. Setelah di atas 10 tahun kepadatan pohon kembali seperti semula. Banyak jenis Pakan orangutan yang dijumpai namun tidak terdapat dalam daftar jenis di sub-plot. Hal ini dikarenakan pakan tersebut berupa pohon kecil atau jenis merambat, bahkan berupa semak. Selama monitoring kali ini tidak banyak jenis yang sedang berbuah, hanya ada beberapa jenis saja yang berbuah seperti Microcos tomentosa dan jenis-jenis rotan.

Ancaman terhadap habitat dan satwa, masih ada seperti perburuan satwa, penebangan liar dan pembukaan ladang masyarakat di dalam kawasan konsesi. Perburuan satwa yang paling ditarget adalah jenis mamalia besar seperti babi hutan, rusa, kijang, kancil dan lainnya. Namun tak menutup kemungkinan jenis satwa liar lainnya yang dilindungi seperti burung rangkong dan burung berkicau lain yang mempunyai nilai jual tinggi juga menjadi sasaran. Alat yang digunakan pemburu adalah jerat yang dipasang di dalam lantai hutan untuk jenis mamalia darat dan senapan angin untuk jenis satwa lainnya.  Pembukaan ladang oleh masyarakat di beberapa lokasi HGU PT SJM bagian utara adalah fakta di lapangan yang terjadi saat ini.  Pengembangan wilayah desa dengan membuat pondok atau rumah di sekitar jalan utama juga semakin memicu fragmentasi habitat yang semakin besar.